Selasa, 27 Oktober 2015

AKB Indonesia Terhadap MDGs 2015



ANALISIS SITUASI ANGKA KEMATIAN BAYI INDONESIA DAN TARGET TUJUAN PEMBANGUNAN MILLENIUM (MDGs)



Oleh :
Kelompok 5

Dyan Fajar Christianti             I151150131
Ibrahim                                    I151150111
Dewi Aprilia Ajeng Lestari     I151150401
Faried Rahendra                     I151150571
Nila Reswari                           I151150041




Dosen Mata Kuliah:
Prof. Dr. Ir. Hidayat Syarief, MS.


 





                                                                                                 
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015


A.    Pendahuluan
Millenium Development Goals (MDGs)
Tujuan Pembangunan Milenium (bahasa Inggris : Millennium Development Goals atau disingkat dalam bahasa Inggris MDGs) adalah Deklarasi Milenium hasil kesepakatan kepala negara dan perwakilan dari 189 negara Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang mulai dijalankan pada September 2000, berupa delapan butir tujuan untuk dicapai pada tahun 2015. Targetnya adalah tercapai kesejahteraan rakyat dan pembangunan masyarakat pada 2015. Target ini merupakan tantangan utama dalam pembangunan di seluruh dunia yang terurai dalam Deklarasi Milenium, dan diadopsi oleh 189 negara serta ditandatangani oleh 147 kepala pemerintahan dan kepala negara pada saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium di New York pada bulan September 2000 tersebut.
Pemerintah Indonesia turut menghadiri Pertemuan Puncak Milenium di New York tersebut dan menandatangani Deklarasi Milenium itu. Deklarasi berisi komitmen negara masing-masing dan komunitas internasional untuk mencapai 8 buah tujuan pembangunan dalam Milenium ini (MDG), sebagai satu paket tujuan yang terukur untuk pembangunan dan pengentasan kemiskinan. Salah satunya adalah mengurangi kematian anak balita hingga 2/3 pada tahun 2015.
Angka Kematian Bayi (AKB)
Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi  lahir sampai bayi belum berusia  tepat satu tahun. Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi. Secara garis besar, dari sisi penyebabnya, kematian bayi ada dua macam yaitu endogen dan eksogen.
Kematian bayi endogen atau yang umum disebut dengan kematian neonatal; adalah kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan, dan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak sejak lahir, yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi atau didapat selama kehamilan.
Kematian bayi eksogen atau kematian post neo-natal, adalah kematian bayi yang terjadi setelah usia satu bulan sampai menjelang usia satu tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar.
AKB menggambarkan keadaan sosial ekonomi masyarakat dimana angka kematian itu dihitung. Kegunaan AKB untuk pengembangan perencanaan berbeda antara kematian neo-natal dan kematian bayi yang lain. Karena kematian neo-natal disebabkan oleh faktor endogen yang berhubungan dengan kehamilan maka program-program untuk mengurangi angka kematian neo-natal adalah yang bersangkutan dengan program pelayanan kesehatan Ibu hamil, misalnya program pemberian pil besi dan suntikan anti tetanus.
Sedangkan Angka Kematian Post-NeoNatal dan Angka Kematian Anak serta Kematian Balita dapat berguna untuk mengembangkan program imunisasi, serta program-program pencegahan penyakit menular terutama pada anak-anak, program penerangan tentang gisi dan pemberian makanan sehat untuk anak dibawah usia 5 tahun.
Angka Kematian Bayi (AKB) adalah banyaknya kematian bayi berusia dibawah satu tahun, per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu.
Angka yang menunjukkan banyaknya kematian bayi usia 0 tahun dari setiap 1000 kelahiran hidup pada tahun tertentu atau dapat dikatakan juga sebagai probabilitas bayi meninggal sebelum mencapai usia satu tahun (dinyatakan dengan per seribu kelahiran hidup).
Angka kematian bayi merupakan indikator yang penting untyk mencerminkan keadaan derajat kesehatan di suatu masyarakat, karena bayi yang baru lahir sangat sensitif terhadap keadaan lingkungan tempat orang tua si bayi tinggal dan sangat erat kaitannya dengan status sosial orang tua si bayi. Kemajuan yang dicapai dalam bidang pencegahan dan pemberantasan berbagai penyakit penyebab kematian akan tercermin secara jelas dengan menurunnya tingkat AKB. Dengan demikian angka kematian bayi merupakan tolok ukur yang sensitif dari semua upaya intervensi yang dilakukan oleh pemerintah khususnya di bidang kesehatan.Dari 44 kematian balita per 1.000 kelahiran hidup, lebih dari tigaperempatnya (77%) disumbangkan oleh umur 0-11 bulan atau bayi. Sehingga angka kematian bayi tidak jauh berbeda dengan angka kematian balita.
Target MDGs untuk AKB pada tahun 2015 sebesar 23 per 1.000 kelahiran hidup. Berbagai faktor dapat menyebabkan adanya penurunan AKB, di antaranya pemerataan pelayanan kesehatan berikut fasilitasnya. Hal itu disebabkan AKB sangat sensitif terhadap perbaikan pelayanan kesehatan. Selain itu, perbaikan kondisi ekonomi yang tercermin dengan pendapatan masyarakat yang meningkat juga dapat berkontribusi melalui perbaikan gizi yang berdampak positif pada daya tahan bayi terhadap infeksi penyakit


B.     Isu Strategis dan Tantangan
Pertemuan UN Conference on Sustainable Deveopment (UNCSD or Rio + 20) di Rio de Jeneiro tahun 2012 memandatkan UN Secretariat untuk menyusun Open Working Group on Sustainable Development Goals (OWG on SDGs).  Hasil yang dari proses OWG on SDGs berupa proposal tentang tujuan-tujuan pembangunan berkelanjutan yang menjadi dasar pembahasan dalam penetapan agenda pembangunan pasca 2015 yang akan diadopsi oleh kepala Negara / pemerintahan pada sidang umum PBB (the UN General Assembly / UNGA).  Sejauh ini berisi 17 tujuan dan 169 target antara lain mengurangi kemiskinan, akses kesehatan, dan pelestarian lingkungan.



MDGs merupakan acuan penting dalam penyusunan dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009 dan 2010-2014, Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahunan, dan dokumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Prestasi pembangunan kesejahteraan yang dicapai oleh Indonesia telah berhasil memperoleh berbagai penghargaan global. Indonesia diundang oleh negara-negara maju yang tergabung dalam Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) untuk masuk dalam kelompok negara-negara yang makin ditingkatkan keterlibatannya (enhanced engagement countries) dengan negara-negara maju.
Capaian tujuan MDGs dapat dikelompokkan menjadi tiga. Pertama, tujuan yang telah berhasil dicapai.  Kedua, tujuan yang menunjukkan kemajuan bermakna dan diharapkan dapat dicapai pada atau sebelum tahun 2015. Ketiga, tujuan yang masih memerlukan upaya keras untuk mencapainya.  Angka Kematian Bayi (AKB) per 1000 kelahiran hidup; Angka Kematian Balita (AKBa) per 1000 kelahiran hidup merupakan salah satu tujuan MDGs yang telah menunjukkan kemajuan namun masih diperlukan kerja keras untuk mencapainya. 
Upaya untuk menurunkan angka kematian anak sudah sejalan dengan sasaran MDGs. Hal ini ditunjukkan dengan penurunan angka kematian balita dari 97 (tahun 1991) menjadi 40 per seribu kelahiran hidup (tahun 2012); penurunan angka kematian bayi dari 68 menjadi 32 per seribu kelahiran; dan neonatal dari 32 menjadi 19 per seribu kelahiran. Sedangkan proporsi anak usia 1 tahun yang diimunisasi campak meningkat dari 44,50 persen (tahun 1991) menjadi 74,20 persen (tahun 2013)
Analisis terhadap tren penurunan AKBa dan AKB yang melambat sejak tahun 2003 perlu dilihat setidaknya dari dua aspek:
a.    Aspek periode life-cycle, terutama periode neonatal (0-28 hari), periode bayi usia 1-11 bulan dan anak balita usia 1-5 tahun, oleh karena faktor yang mempengaruhi dan program untuk ketiga periode life-cycle tersbut mempunyai arti dan implikasi yang berbeda; dan
b.    Aspek disparitas berdasarkan berbagai variabel, yaitu provinsi, tempat tinggal, pendidikan, kuintil kekayaan, dan variabel lainnya. Kemiskinan merupakan faktor mendasar yang sangat penting yang berpengaruh terhadap kematian bayi dan anak. Rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas dan tingginya faktor risiko lain pada kelompok miskin seringkali sejalan dengan status kesehatan yang buruk dan kematian bayi dan anak yang tinggi. Oleh karena itu, analisis terhadap disparitas terkait kemiskinan dan faktor determinan lainnya perlu dilakukan.
Periode neonatal (bayi 0-28 hari)
Masih tingginya kematian neonatal secara global dan pentingnya kontribusi kematian neonatal terhadap kematian bayi telah mendorong ditetapkannya Every Newborn Initiative baru-baru ini oleh WHO untuk menghentikan kematian yang dapat dicegah. Kontribusi kematian neonatal terhadap kematian bayi dan anak balita sangat tinggi. Tanpa penurunan kematian neonatal yang signifikan, target MDG 4 akan sulit dicapai. Diperkirakan bahwa dengan menurunkan AKN sebesar 50 persen akan bisa menurunkan AKB sebesar 30 persen dari 32 menjadi 22 per 1000 kelahiran hidup dan menurunkan AKBa sebesar 23.5 persen dari 40 menjadi 32 per 1000 kelahiran hidup.
Pada umumnya kontribusi kematian neonatal di negara maju dengan angka kematian bayi sangat rendah, lebih tinggi dibandingkan dengan kontribusi kematian neonatal di negara dengan kematian bayinya tinggi. Hal ini terjadi karena di negara maju penanganan terhadap neonatal semakin canggih sehingga bayi prematur yang mempunyai resiko kematian sangat tinggi dapat diselamatkan
Data SDKI 2012 menunjukkan bahwa kontribusi kematian neonatal terhadap kematian bayi lebih tinggi di provinsi yang AKBnya rendah, dan sebaliknya lebih rendah di provinsi yang AKBnya tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa pada provinsi dengan AKB rendah, penurunan kematian bayi dicapai keberhasilan dallam penurunan penyakit infeksi yang bisa dicegah dengan imunisasi, penurunan infeksi karena diare, dan upaya-upaya lainnya seperti perbaikan status gizi bayi karena asupan bayinya yang baik. Sementara itu, kematian neonatal dengan penanganan dan teknologi yang lebih kompleks serta kualitas pelayanan persalinan yang tinggi belum secara optimal bisa dicapai. Pada provinsi dengan AKB tinggi, tidak berarti bahwa masalah kematian neonatal lebih baik, masalah kematian tetap ada, tetapi masalah penyakit infeksi masih belum tertangani dengan baik. Demikian pula dengan perbaikan status gizi bayi dan anak belum optimal.
AKB Tinggi dan Rendah (SDKI 2012)
Kecenderungan serupa juga terjadi pada kontribusi kematian neonatal terhadap kematian balita. Provinsi yang mempunyai angka kematian balita yang rendah, proporsi kematian neonatal terhadap kematian balitanya lebih kecil dibandingkan dengan di provinsi yang mempunyai AKBa tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa di provinsi dengan kematian bayi dan balita masih tinggi, permasalahannya tidak hanya pada pencegahan terjadinya dan penanganan neonatal, tetapi juga pada pencegahan dan penanganan penyakit infeksi dan kurang gizi.
Kematian neonatal, bayi maupun balita lebih tinggi di perdesaan dibandingkan di perkotaan. Sedangkan proporsi kematian neonatal terhadap kematian bayi dan balita hampir tidak ada perbedaan antara daerah perkotaan dan perdesaan, yaitu masing-masing  kematian neonatal terhadap kematian bayi adalah 58 persen di perkotaan dan 60 persen di perdesaan. Sedangkan kontribusi kematian neonatal terhadap kematian balita adalah 44 persen di perkotaan dan 46 persen di perdesaan. Kematian neonatal, bayi maupun balita secara umum juga lebih tinggi pada ibu dengan tingkat pendidikan rendah serta ibu pada kuintil kekayaan yang lebih rendah. Kontribusi kematian neonatal terhadap kematian bayi dan balita secara umum lebih besar pada ibu dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi.
Penyebab Kematian Neonatal
Secara global penyebab utama kematian neonatal adalah prematuritas (28 persen), infeksi berat (36 persen, termasuk sepsis/pneumonia 26 persen, tetanus 7 persen, dan diare 3 persen) dan asfiksia (23 persen). Sebagian besar kematian neonatal terjadi pada minggu pertama pascalahir, terutama pada hari pertama kehidupan (Lawn, 2005). Artinya, masa persalinan dan 24 jam setelah persalinan merupakan waktu yang sangat kritis dan strategis untuk mencegah kematian neonatal. Kematian neonatal setelah minggu pertama biasanya disebabkan oleh infeksi.
Di Indonesia, penyebab utama kematian neonatal usia 0-6 hari adalah gangguan pernapasan/asfiksia, prematuritas, infeksi, dan hipotermi. Infeksi dan hipotermi dapat merupakan akibat dari berat badan lahir yang rendah dan sebagian besar prematuritas juga mempunyai berat badan lahir rendah. Oleh karena itu, peran BBLR terhadap kematian pada minggu pertama pasca lahir cukup besar. Penyebab utama kematian neonatal usia 7-28 hari adalah sepsis, malformasi kongenital, pneumonia, RDS, dan prematuritas
Penanganan Persalinan dan Pascasalin
Proses persalinan merupakan faktor penting untuk mencegah kesakitan dan kematian bayi, terutama yang disebabkan oleh asfiksia dan infeksi. Continuum of care atau pelayanan berkelanjutan kebidanan dan neonatal mulai dari tingkat komunitas sampai fasilitas rujukan untuk kasus komplikasi menjadi sangat penting.  Dalam kenyataannya, akses terhadap pelayanan persalinan yang berkualitas masih menjadi permasalahan besar di Indonesia. Kontinuitas pelayanan PONED dan PONEK 24/7 berkualitas yang ditunjang oleh sistem rujukan yang kuat masih menghadapi berbagai tantangan. Akses terhadap pelayanan kebidanan berkelanjutan dan berkualitas masih menjadi kendala dan karenanya perlu mendapatkan prioritas lebih tinggi.
Selanjutnya, pola perawatan bayi baru lahir di rumah akan mempengaruhi kesakitan dan kematian neonatal, termasuk tetanus. Program pemerintah untuk kunjungan neonatal (KN) sebanyak 3 kali, yaitu pada 6-48 jam pertama (KN1), 3-7 hari pasca lahir (KN2) dan 8-28 hari pasca lahir (KN3), dimaksudkan untuk mencegah dan mengidentifikasi dengan segera kesakitan pada periode neonatal ini. Hasil Riskesdas tahun 2010 menunjukkan bahwa persentase KNI adalah sebesar 71.4 persen, KN2 sebesar 61.3persen, dan KN3 hanya 38 persen. Kurang dari sepertiga (31.8 persen) yang mendapatkan KN lengkap, sementara yang tidak pernah melakukan KN mencapai 20.8 persen
Disparitas BBLR berdasarkan berbagai Variabel
BBLR lebih tinggi di perdesaan, di kelompok berpendidikan rendah dan kelompok dengan kuintil kekayaan rendah. Data SDKI 2012 menunjukkan perbedaan prevalensi BBLR berdasarkan pendidikan yang sangat mencolok pada 3 kelompok terendah tingkat pendidikan, sedangkan berdasarkan kuintil kekayaan, perbedaan sangat nyata pada kelompok kuintil 1. Gambaran tersebut mengindikasikan panjangnya proses yang mempengaruhi terjadinya BBLR, yaitu mulai dari status gizi remaja sampai ibu hamil, yang sangat mungkin dipengaruhi oleh faktor pendidikan. Meningkatnya childbearing (hamil atau pernah melahirkan anak pertama saat berumur 15-19 tahun) pada remaja puteri yaitu 8.5 persen pada tahun 2007 dan 9.5 persen pada tahun 2012 (SDKI), bisa juga terkait dengan rendahnya pendidikan remaja puteri. Pada umumnya pertumbuhan remaja puteri telah selesai pada usia 18-20 tahun, yang berarti setelah usia inilah remaja puteri siap untuk hamil. Kehamilan pada usia sebelum selesainya pertumbuhan akan mengakibatkan terjadinya persaingan pemenuhan kebutuhan zat gizi untuk pertumbuhan bayi dan pertumbuhan ibunya yang belum selesai. Akibatnya, pertumbuhan ibu dan bayi akan terhambat
Periode bayi usia 1-11 bulan
Penyebab utama kematian bayi adalah diare, pneumonia, dan meningitis. Turunnya AKB dan AKBa mengindikasikan bahwa program untuk menurunkan kematian bayi dan balita cukup sukses. Program tersebut meliputi peningkatan imunisasi termasuk imunisasi campak yang dapat menurunkan kematian melalui penurunan prevalensi pneumonia, dan penurunan prevalensi diare dan penyakit infeksi lainnya yang berpengaruh terhadap kesakitan dan kematian bayi dan anak
Asupan Makanan Bayi dan Anak
WHO menganjurkan agar setiap anak mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan, termasuk upaya inisasi menyusu (IMD) dini dalam 1 jam pertama pasca lahir. Pada usia 6 bulan makanan pendamping ASI mulai diberikan dan dilanjutkan selama dua tahun. Pemberian ASI ini sebaiknya “on demand”, atau sesuai dengan keinginan dan kebutuhan  bayi. IMD akan merangsang produksi ASI dan memfasilitasi pengeluarannya sehingga bayi dapat segera mendapatkan asupan makanannya. IMD juga penting karena ASI yang keluar pertama kali sampai dengan beberapa hari setelahnya mengandung kolostrum yang kaya zat gizi dan antibodi sehingga segera memenuhi kebutuhan makanan bayi dan memproteksi terhadap serangan penyakit infeksi.
Selain IMD, ASI eksklusif, dan pemberian ASI sampai dengan usia 2 tahun, pedoman yang direkomendasikan WHO mengenai pemberian makanan pada bayi dan anak usia dini (IYCF- Infant and Young Child Feeding) adalah waktu pemberian makanan pendamping ASI sejak usia 6 bulan, yang dimulai dengan jumlah yang sedikit, selanjutnya jumlah dan frekuensi makanan ditingkatkan seiring dengan bertambahnya usia. Pemberian makanan semisolid /solid untuk bayi usia 6-8 bulan adalah sebanyak 2-3 kali perhari dan 3-4 kali perhari untuk bayi usia   9 – 24 bulan, diselingi makanan kudapan (snack) di antaranya, 1 atau 2 kali perhari sesuai dengan keinginan bayi/anak.
Minimum IYCF untuk bayi usia 6-23 bulan yang diberi ASI adalah melanjutkan pemberian ASI, pemberian makanan semisolid/solid untuk bayi usia 6-8 bulan sedikitnya 2 kali perhari dan sedikitnya 3 kali perhari untuk bayi usia 9 – 24 bulan, dengan persyaratan makanan tersebut mengandung sedikitnya 3 kelompok makanan perhari. Sedangkan untuk bayi yang tidak mendapatkan ASI, minimum IYCF adalah mendapatkan pengganti ASI, pemberian makanan semisolid/solid sedikitnya 4 kali perhari, dengan persyaratan makanan tersebut mengandung sedikitnya 4 kelompok makanan perhari, termasuk pengganti ASI
Status Gizi Bayi
Salah satu penyebab belum tercapainya penurunan AKBa dan AKB adalah banyaknya balita yang menderita gizi kurang, pendek atau kurus. Walaupun status gizi balita telah mengalami perbaikan dan prevalensi gizi kurang pada anak balita hampir mencapai target MDG, yaitu sebesar 17.9 persen pada tahun 2010, prevalensi balita pendek/stunting dan sangat pendek, masih sangat tinggi dan cenderung bahkan cenderung meiningkat 36.8 persen (2007) menjadi 37.2 persen (2012). Tingginya stunting pada anak balita mengindikasikan bahwa telah terjadi keadaan kurang gizi secara kronis dan/atau berulang sejak usia dini. Prevalensi stunting meningkat mulai usia 12 bulan sampai dengan umur 59 bulan. Hal ini mengindikasikan adanya proses kekurangan gizi kronis/berulang pada usia dini (<12 bulan) dan berlanjut sampai usia selanjutnya. Tingginya prevalensi kurus pada usia yang lebih muda juga mengindikasikan bahwa proses kekurangan gizi akut sudah terjadi sejak usia dini
Tantangan
Beberapa hal yang dapat dijelaskan sehubungan upaya penurunan AKBa dan AKB untuk mencapai tujuan MDG adalah sebagai berikut:
a.    AKB  dan  AKBa  akan  sulit  untuk  turun  jika  AKN tidak dapat diturunkan dengan signifikan.
Penurunan AKN sebesar 50 persen diperkirakan akan dapat menurunkan AKB sebesar 30 persen  (dari 32 menjadi 22 per 1000 kelahiran hidup). Oleh karena itu, upaya penurunan AKBa dan AKB sebaiknya difokuskan pada penurunan neonatal khususnya dengan menurunkan BBLR dan meningkatkan akses terhadap pelayanan kebidanan berkelanjutan. Akses terhadap pelayanan kebidanan berkualitas di sekitar waktu  persainan dapat menurunkan risiko asfiksia dan infeksi dan memperbaiki manajemen BBLR.  Karena sebagian kematian neonatal  sangat terkait dengan komplikasi maternal saat persainan, maka penurunan kematian neonatal perlu didesain dalam konteks program maternal dan neonatal secara terintegrasi
b.    Gizi kurang dan terutama stunting pada bayi dan balita masih tinggi. 
Perbaikan status gizi pada anak balita perlu dikaitkan dengan program perbaikan gizi pada 1000 Hari Pertama  Kehidupan (1000 HPK), yaitu ibu hamil dan anak usia 2 tahun pertama kehidupan.
c.    Faktor penting yang berhubungan dengan risiko terjadinya BBLR
Adalah status gizi ibu, yaitu tinggi badan ibu, berat badan ibu terhadap tinggi badannya atau Index Massa Tubuh (IMT) dan pertambahan  berat badan selama kehamilan. Ketiganya diperkirakan memberikan kontribusi sebesar 40 persen risiko terjadinya BBLR yang diakibatkan oleh IUGR (Intra Uiterine Growth Restriction)
d.   Disparitas angka kematian bayi, kematian anak, BBLR dan dalam capaian program antar provinsi masih lebar.
Peran daerah dalam menurunkan AKB dan AKBa  dapat lebih ditingkatkan dan difokuskan pada penurunan AKN dan peningkatan status gizi 1000 HPK
e.    Kematian neonatal, bayi, dan balita lebih tinggi di perdesaan.
Pada kelompok masyarakat dengan pendidikan rendah dan pada kuintil terendah.  Program perlu memfokuskan target pada keompok ini dan berintegrasi dengan sektor terkait.

C.    Kebijakan dan Program yang Perlu Dilakukan
Upaya yang telah dilakukan untuk mengurangi AKB, antara lain penempatan bidan di desa, pemberdayaan keluarga dan masyarakat melalui buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) dan P4K (Pedoman Program Perencanaan dan Pencegahan Komplikasi), pembenahan fasilitas emergensi untuk persalinan di Puskesmas dan Rumah Sakit (RS), serta program Jaminan Persalinan (Jampersal) untuk 2,5 juta jiwa ibu hamil yang belum memiliki jaminan kesehatan.
Pemerintah daerah, baik itu di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota diharapkan mampu memupuk komitmen untuk terus memperkuat sistem kesehatan. Pemerintah provinsi diharapkan menganggarkan dana yang cukup besar untuk mendukung peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan dasar dan rujukan. Pelayanan kesehatan dasar yang diberikan melalui Puskesmas hendaknya diimbangi dengan ketersediaan RS Rujukan Regional dan RS Rujukan Provinsi yang terjangkau dan berkualitas.  Dukungan pemerintah provinsi diharapkan juga diimbangi dengan dukungan pemerintah kabupaten/kota dalam implementasi upaya penurunan kematian bayi. Antara lain melalui penguatan SDM, ketersediaan obat-obatan dan alat kesehatan, anggaran, dan penerapan tata kelola yang baik (good governance) di tingkat kabupaten/kota.
Keberhasilan percepatan penurunan kematian bayi baru lahir tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan pelayanan kesehatan namun juga kemudahan masyarakat menjangkau pelayanan kesehatan. Peran sektor lain terkait kesehatan dan perbaikan infrastruktur yang akan menunjang akses kepada pelayanan kesehatan sangat berarti, seperti transportasi, ketersediaan listrik, ketersediaan air bersih dan sanitasi, serta pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Demikian pula keterlibatan masyarakat madani, lembaga swadaya masyarakat dalam pemberdayaan dan menggerakkan masyarakat sebagai pengguna serta organisasi profesi sebagai pemberi pelayanan kesehatan. Upaya-upaya yang akan dilakukan berfokus pada 5 sasaran, yaitu:
1.      Keluarga
Keluarga merupakan bagian penting dalam meningkatkankan upaya penekananan angka kematian bayi dan balita. Hal ini dapat dimulai sejak remaja putri dengan menjalankan pesan gizi seimbang, diantaranya mengonsumsi aneka ragam bahan pangan, sayuran hijau dan buah berwarna sehingga kejadian anemia pada remaja putri akan berkurang, remaja putri yang sehat akan menjadi calon ibu yang sehat, tidak anemia dan dapat melahirkan bayi yang sehat pula (tidak BBLR).
Selain itu, upaya inovasi lainnya yang dapat dilakukan pada tingkat keluarga adalah pesan gizi seimbang untuk ibu hamil, mempersiapkan suami untuk mendukung kehamilan dan persalinan istri, mendorong diadakannya tabulin (tabungan ibu bersalin/biaya persalinan), mempersiapkan angkutan bagi ibu hamil saat akan persalinan yang bisa dilakukan dengan musyawarah desa sehingga ibu hamil dapat memperoleh akses ke pelayanan kesehatan terdekat dan akan mengurangi jumlah kematian ibu dan bayi.
2.      Kader Masyarakat
Inovasi dalam kader masyarakat yang perlu dilakukan adalah adanya Kader asuh, yaitu kader kesehatan yang kegiatannya lebih fokus pada pendampingan dan pemantauan terhadap sasaran kesehatan dalam hal ini adalah memantau ibu hamil dan balita yang ditentukan dalam satu wilayah kerja posyandu, Kader Asuh lebih mengoptimalkan peran kader di luar posyandu melalui pola surveilans KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) dan Gizi serta kondisi kesehatan masyarakat secara umum, yang terfokus pada keluarga binaannya. Kader tersebut memiliki tanggung jawab terhadap permasalahan kesehatan yang ada di wilayah keluarga binaannya, terutama masalah Kesehatan Ibu dan Anak, seperti: mendampingi dan memantau setiap hari konsumsi tablet tambah darah oleh ibu hamil agar sesuai dengan jumlah yang disarankan selama kehamilan yaitu minimal 90 tablet. Jika hal ini terlaksana, kejadian anemia pada ibu hamil dapat diturunkan serta akan menurukan perdarahan pada saat melahirkan yang merupakan penyebab kematian ibu dan bayi yang masih tinggi di Indonesia.
3.      Lembaga Layanan Publik
Hal yang bisa dilakukan di lembaga layanan publik yaitu di tingkat KUA membuat peraturan perundang-undangan untuk calon pengantin, inovasi yang bisa dilakukan disini adalah menjadikan status kadar Hb (tidak anemia) sebagai prasyarat untuk dapat melaksanakan pernikahan secara resmi. Jika database mengenai calon ibu hamil dapat diperoleh dengan baik pada tingkat ini maka calon pengantin yang masih anemia harus memperbaiki statusnya menjadi tidak anemia, dilakukan kerjasama dengan puskesmas terdekat untuk rujukannya. Jika hal ini terlaksana, maka tidak akan ada caloon ibu yang anemia, perdarahan pada saat melahirkan akan berkurang dan tujuan dari menurunkan angka kematian bayi dapat tercapai sesuai target yang diharapkan.
4.      Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah
Hal yang bisa dilakukan disini adalah koordinasi lintas sektor dan akuntabilitas, dengan membuat Kebijakan seperti: Meningkatkan efektifitas kepemimpinan, koordinasi multi sector, dan pembagian tanggunga jawab untuk mendukung Gerakan 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan) di tingkat nasional dan sub-nasional. Strategi yang bisa dilakukan agar program tersebut terlaksana adalah dengan melaksanakan:
·         Penguatan koordinasi lintas sektor dan stakeholder pada gerakan 1000HPK di tingkat nasional dan sub-nasional
·         Pembuatan RADPG (Rencana Aksi Daerah Pangan dan Gizi) di semua tingkatan
·         Orientasi pembuat kebijakan dan perencana di semua sektor terkait gizi pada 1000 HPK, dan keterkaitan antara permasalahan kurang gizi dan kelebihan gizi
·         Menetapkan pemilahan tanggung jawab terkait kegiatan gizi di berbagai sector yang terefleksi dalam strategi dan perencanaan di masing-masing sektor
·         Pada sektor kesehatan, yang bisa dilakukan adalah meningkatkan akses terhadap layanan gizi berkualitas pada siklus kehidupan yang berfokus pada 1000 HPK, termasuk remaja putri dan calon ibu, strategi yang dilakukan adalah: Meningkatkan cakupan dan kualitas paket layanan kesehatan dan gizi, Promosi perilaku kesehatan, gizi, kebersihan dan parenting yang optimum, Penguatan kompetensi tenaga KIA (Kesehatan Ibu dan anak) dan petugas gizi serta petugas kesehatan lainnya dalam memberikan pelayanan kesehatan, Penguatan perencanaan/desain, implementasi dan pemantauan kebijakan dan standar KIA dan gizi.
Di sisi sumber daya manusia kesehatan, khususnya petugas KIA dan gizi, akan ditemui kendala dan hambatan dari geografis Indonesia yang tidak semua terjangkau transportasi, terlebih untuk daerah pedalaman, sumber daya manusia kesehatan masih perlu ditingkatkan kompetensinya secara berkala melalui pendidikan dan pelatihan. Sudah saatnya upaya peningkatan kompetensi bergerak maju dari pendekatan cenderung klasikal dengan pembelajaran dalam kelas menjadi pendidikan berbasis perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yakni Pendidikan dan Pelatihan Jarak Jauh (PPJJ). Kompetensi perawat dan bidan akan meningkat melalui inovasi PPJJ. Para bidan dan perawat mendapat kesempatan meningkatakan kompetensi tanpa harus meninggalkan tempat pelayanan. Dengan demikian kualitas dan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang berkualitas terjamin dengan baik.
5.      LSM, Swasta, dan lembaga Internasional
Dalam suatu wilayah, memiliki potensi-potensi yang dapat dimanfaatkan agar tujuan menurunkan angka kematian bayi dapat tercapai, seperti LSM/NGO yang sangat mendukung jika akan melaksanakan kegiatan yang berbasis masyarakat, pendekatan-pendekatan dapat dilakukan untuk bisa memperoleh dukungan baik berupa tenaga maupun dana dari LSM/NGO tersebut.
Selain dengan LSM, dapat diperoleh dukungan dari swasta, misal dari sektor perdagangan dan perindustrian di wilayah tersebut untuk memberi dukungannya dalam kegiatan yang akan diusulkan untuk menekan angka kematian bayi, misal dengan memberikan dukungan biaya dalam kegiatan posyandu yang ada di suatu wilayah sehingga kegiatan pelayanan kesehatan dapat diperoleh ibu hamil, PMT untuk ibu hamil bisa diberikan selain yang berasal dari pemerintah, hal ini akan memperbaiki status gizi ibu hamil sehingga tidak akan melahirkan bayi yang BBLR.
Kerjasama dan dukungan juga bisa dilakukan dengan lembaga internasional, misal WHO dengan mengusulkan kegiatan untuk peningkatan sumber daya manusia di tingkat masyarakat, dengan peningkatan pengetahuan diharapkan terjadi perubahan perilaku ke arah yang baik sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di wilayah tersebut
Keterangan:
Kerja sama dengan berbagai development partners dalam bidang kesehatan ibu dan anak (KIA) telah berlangsung lama, antara lain kerjasama dengan Pemerintah Australia melalui program AIP MNH (Australia Indonesia Partnership for Maternal and Neonatal Health) sejak tahun 2008. Program yang digulirkan di 14 Kabupaten di Provinsi NTT ini bertujuan menurunkan angka kematian ibu dan bayi melalui Revolusi Kesehatan Ibu dan Anak. Program ini bergerak dalam bidang pemberdayaan perempuan dan masyarakat, peningkatan kualitas pelayanan KIA di tingkat puskesmas dan RS serta peningkatan tata kelola di tingkat kabupaten. Pengalaman menarik dari program ini adalah pengalaman kemitraan antara RS besar dan maju dengan RS kabupaten di NTT yaitu kegiatan sister hospital.
Kerjasama di bidang KIA juga dilakukan bersama-sama USAID melalui program MCHIP (Maternal & Child Integrated Program) di 3 kabupaten (Bireuen, Aceh, Serang-Banten dan Kab.Kutai Timur- Kalimantan Timur). Sementara kerjasama dengan JICA telah membuahkan hasil yang amat penting yaitu penerapan buku KIA di seluruh Indonesia. Pemerintah juga mengajak GAVI (Global Alliance for Vaccine & Immunization) untuk meningkatkan cakupan imunisasi dan KIA melalui berbagai kegiatan peningkatan partisipasi kader dan masyarakat, memperkuat manajemen puskesmas dan kabupaten/kota di beberapa kabupaten di 5 provinsi (Banten, Jabar, Sulsel, Papua Barat dan Papua).
Upaya kemitraan juga dilakukan dengan badan-badan dunia PBB, seperti UNICEF dan WHO. Dengan UNICEF, Kementerian Kesehatan melakukan peningkatan pemberdayaan keluarga dan masyarakat terkait kesehatan ibu dan anak dan peningkatan kualitas pelayanan anak melalui manajemen terpadu balita sakit (MTBS). Upaya ini dilakukan di beberapa wilayah kerja UNICEF seperti Aceh, Jawa Tengah, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur (kerjasama dengan Child Fund). Sementara bersama-sama WHO, Kementerian Kesehatan memfasilitasi peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak baik dalam dukungan penyusunan standar pelayanan maupun capacity building. Awal tahun ini, tepatnya 26 Januari 2012 lalu, Kementerian Kesehatan bekerjasama dengan USAID meluncurkan program EMAS (Expanding Maternal and Neonatal Survival) dalam rangka upaya percepatan penurunan kematian ibu dan bayi baru lahir.
Program yang akan dijalankan dalam kurun waktu 2012-2016 ini digulirkan di 6 provinsi terpilih yaitu Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah dan Jawa Timur yang menyumbangkan kurang lebih 50 persen dari kematian ibu dan bayi di Indonesia.
Dalam pelaksanaannya di lapangan, Kementerian Kesehatan bekerjasama dengan JHPIEGO, serta mitra-mitra lainnya seperti Save the Children, Research Triangle Internasional, Muhammadiyah dan Rumah Sakit Budi Kemuliaan. Upaya yang akan dilaksanakan adalah peningkatan kualitas pelayanan emergensi obstetri dan neonatal dengan cara memastikan intervensi medis prioritas yang mempunyai dampak besar pada penurunan kematian dan tata kelola klinis (clinical governance) diterapkan di RS dan Puskesmas.
Upaya lain dalam program EMAS ini adalah memperkuat sistem rujukan yang efisien dan efektif mulai dari fasilitas pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas sampai ke RS rujukan di tingkat kabupaten/kota. Tekad dan tujuan Kementerian Kesehatan untuk mencapai “Masyarakat Sehat yang Mandiri dan Berkeadilan” dapat diraih dengan dukungan berbagai pihak, demi kesejahteraan masyarakat umumnya dan kesehatan ibu dan anak khususnya
Daftar Pustaka
[Anonim]. 2012. Reformasi puskesmas tekan angka kematian ibu dan anak di NTT. Suara Pembaruan. http://www.beritasatu.com/kesehatan/197120-reformasi-puskesmas-tekan-angka-kematian-ibu-dan-anak-di-ntt.html [7 Okt 2015].
[Dinas Kesehatan]. 2015. Laporan program gizi - KIA. Bandung: Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat.
Izwardi D. 2015. Perbaikan status gizi. Pertemuan koordinasi program Gizi-KIA dengan Kabupaten Kota Tingkat Provinsi Bandung. Bandung.
Bappenas. 2014. Laporan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milennium di Indonesia 2013.
Atmawikarta, Arum. 2015. Draft Laporan Singkat Pencapaian Tujuan Pembangunan Millennium di Indonesia 2014. Sekretariat MDGs Nasional. KemenPPN/Bappenas
Bappenas. 2015. Persiapan Indonesia Menuju Agenda Pembangunan Berkelanjutan
United Nations. 2015. Summary The Millennium Development Goals Report

Tidak ada komentar:

Posting Komentar