Selasa, 27 Oktober 2015

REVIEW JURNAL : OVERVIEW OF THE MNA-ITS HISTORY AND CHALLENGE



NILA RESWARI H (I151150041
GMS - SEKOLAH PASCASARJANA
 
REVIEW JURNAL : OVERVIEW OF THE MNA-ITS HISTORY AND CHALLENGE (VELLAS B. et al. 2006)
Pendahuluan
Pengembangan Mini Nutrition Assessment (MNA) dimulai pada tahun 1989 dalam International Association of Geriartrics and Gerantology (IAG) di Acapulco. Tujuan diskusi ini adalah untuk mendesain alat untuk mengukur status gizi lanjut usia (lansia). Hal ini dilakukan karena tingginya prevalensi masalah gizi khususnya dalam gizi kurang, baik di rumah perawatan maupun di rumah sakit pada orang-orang lanjut usia. Penilaian gizi saja tidak cukup dalam praktek klinis karena adanya kompleksitasnya dalam evaluasi asupan makanan, parameter klinis dan tanda-tanda biologis.
MNA Sebagai Bagian dari Comprehensive Geriartric Assessment
Comprehensive Geriartric Comprehensive (CGA) merupakan alat diagnosa yang akurat dan dapat menunjukkan prognosis dalam jangka lama. CGA telah digunakan dalam berbagai bidang untuk mendeteksi masalah medis, psikologi, sosial, dan lingkungan lansia. Sebelum tahun 1989. Penilaian gizi tidak masuk dalam CGA. Publikasi pertama MNA pada tahun 1994. Nilai yang ditentukan dalam MNA dibandingkan dengan seluruh penilaian gizi termasuk asupan harian lansia yang dievaluasi dengan food record selama 3 hari dan kuesioner pola makan, serta penilaian klinis seperti parameter antropometri, penilaian biologis terhadap status vitamin, mineral dan protein.
Pada tahun 2001 short form MNA (MNA-SF) dipublikasikan. Form ini merupakan versi pendek dari MNA yang berguna dalam melakukan skrining dan digabungkan dengan MNA, sehingga dilakukan dalam 2 proses. Baik dalam praktek medis dan penelitian klinis, MNA merupakan alat yang telah digunakan secara luas dalam melakukan penilaian dan skrining untuk sasaran lansia.
MNA Dalam Praktek Klinis
Dalam melakukan intervensi gizi, MNA tidak dapat berdiri sendiri. MNA merupakan bagian dari CGA yang digunakan agar dapat saling melengkapi dalam melakukan evaluasi secara utuh. Populasi lansia terlalu beragam untuk ditentukan aturan umum yang dapat diaplikasikan. CGA membantu pihak di bidang klinis untuk menentukan tujuan intervensi sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu lansia.
Penilaian gizi seharusnya dilakukan menggunakan 2 langkah. Dimulai dari pengisian MNA-SF yang dapat dilakukan dalam beberapa menit, kemudian dilanjutkan pengisian MNA yang dilakukan dalam waktu 10-15 menit bila perlu. Klasifikasi lansia yang ditetapkan oleh MNA : gizi baik, berisiko mengalami kurang gizi dan mengalami gizi kurang. MNA berhubungan dengan penilaian klinis, indikator objektif dari status gizi seperti albumin, IMT, tebal lemak trisep, asupan kalori dan status vitamin.
Penggunaan MNA-SF Dalam Praktek Klinis
a)    Jika nilai MNA-SF >12 maka pasien status gizi pasien baik. pada tingkatan ini penting untuk diberikan saran gizi meskipun tidak ada tanda terjadinya gizi kurang. Selain itu berat badan (BB) individu tersebut juga harus dipantau. Intervensi dilberikan bila terjadi penurunan BB.
b)   Jika nilai <12, maka harus dilakukan penilaian lanjut dengan menggunakan MNA sebagai bagian dari intervensi gizi
Penggunaan MNA Dalam Praktek Klinis
a)    Nilai 23,5 atau lebih diklasifikasian bahwa individu tersebut memiliki status gizi yang baik. perlu dilakukan pemantauan berat badan, biasanya setiap 6 atau 12 bulan. Perlu dilakukan evaluasi terus menerus dan diperlukan melakukan jika terjadi penurunan BB atau nilai dari penilaian MNA menurun.
b)   Nilai antara 17-23,49 mengindikasikan individu tersebut mengalami resiko masalah gizi khususnya kurang gizi. Pada nilai ini, individu tidak mengalami penurunan BB yang signifikan, tidak pula mengalami penurunan parameter biokimia seperti plasma albumin, level vitamin, dll. Individu tersebut mengalami kekurangan asupan kalori, vitamin dan protein yang tidak sesuai dengan kebutuhannya.
Berdasarkan CGA, diperlukan evaluasi gizi yang detail dan dimasukkan pula analisis food record selama 3 hari. Juga perlu dilakukan evaluasi terhadap riwayat penyakit, penyakit yang diderita akhir-akhir ini, intervensi medis yang telah diterima, kebersihan mulut/oral serta kemampuan menelan. Pasien perlu meminum suplemen secara orang untuk mencukupi kebutuhan kalori, protein dan zat gizi mikro. Penelitian menunjukkan bahwa suplemen dapat meningkatkan serum albumin, hematokrit dan hasil pengukuran antropometri pada kebanyakan individu baik yang mengalami gizi kurang  maupun beresiko mengalami gizi kurang.
c)    Nilai kurang dari 17 (<17) biasanya mengindikasikan bahwa individu tersebut mengalami kekurangan protein kalori (KEK). Pada tingkatan ini, penting untuk mengukur derajat keparahan gizi kurang dengan mengukur nilai biokimianya seperti plasma albumin atau level protein. Selain itu perlu dilakukan evaluasi food record dalam 3 hari, serta dilakukan pengukuran antropometri seperti IMT, LiLa, dan tebal lemak. Intervensi gizi dilakukan berdasarkan tujuan yang ingin dicapai setelah mendetailkan CGA. Tube-feeding mungkin dibutuhkan untuk memastikan asupan zat gizi makro, mikro dan air. Jika memang dibutuhkan tube-feeding maka dibutuhkan tenaga medis ahli untuk melakukannya dan mengawasinya berdasarkan kondisi patofisiologis pasien.

 Penelitian MNA
Beberapa penelitian penggunaan MNA pada sasaran lansia
-       Terdapat hubungan signifikan antara MNA dengan tebal lemak trisep, ADL dan serum albumin (P<0,01) (Gerber V, Kreig MA. 2003)
-       MNA-SF sensitif dan spesifik untuk mengidentifikasi pasien lansia dengan gizi kurang atau resiko gizi kurang bila menggunakan poin cut off >12 untuk normal. Sensitivitas MNA meningkat bila poin cut off untuk mengidentifikasi gizi kurang meningkat dari <17 menjadi <18 (Kuzuya M, Kanda S. 2005)
-       Terdapat hubungan secara signifikan antara nilai MNA dengan nilai biokimia (total hitung limfosit, albumin dan transferin) (p<0,001) (Gomez Ramos MJ, Gonzales Valverde FM. 2005)
-       Tidak ada hubungan yang signifikan antara serum albumin dan prealbumin dengan MNA pada populasi yang mengalami penyakit pressure ulcers stage I-IV (Langkamp-Henken B, Hudgens J. 2005)
-       Sensitivitas SGA 93% sedangkan MNA 96%. Spesifitas SGA 61% sedangkan MNA 26%. SGA lebih berguna untuk mendeteksi individu yang mengalami gizi kurang, sedangkan MNA lebih berguna untuk mendeteksi individu yang membutuhkan pencegahan (Christensson L, Unosson M. 2002)
Masih banyak penelitian lain dalam penggunaan MNA dengan subjek penelitian adalah populasi lansia. Dapat disimpulkan bahwa MNA secara jelas berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas pada banyak penelitian yang telah dilakukan.
MNA dan Follow Up Gizi
MNA telah berhasil dilakukan pada banyak penelitian intervensi pada pasien yang sakit, lemah atau mengalami dementia. Pada penelitian yang ada, individu yang menerima suplementasi oral, nilai MNA dan BB meningkat selama dilakukan pemantauan. Intervensi gizi harus segera dilakukan sebelum muncul efek pada tubuh yang tidak dapat diperbaiki.
CGA berfungsi untuk melakukan evaluasi gizi yang efektif dalam semua metode skrining. Dalam kelompok individu yang mengalami dementia, nilai MNA yang rendah berhubungan dengan meningkatnya mortalitas dalam 1-2 tahun, meningkatnya perlakuan perawatan dalam rumah, dan meningkatnya kecepatan dalam penurunan fungsi kognitif.

Tantangan Baru Untuk MNA?
Penting untuk mengajarkan kepada tenaga kesehatan professional khususnya yang berkonsentrasi pada populasi lansia yang mengalami kelemahan dan sakit dalam penggunaan MNA. MNA bukan hanya alat untuk mengukur status gizi tapi juga berguna dalam melakukan skrining pada populasi untuk mengidentifikasi lansia yang mengalami kelemahan. Perlu adanya nilai spesifik yang dapat mengidentifikasi lansia yang mengalami kelemahan dalam praktek klinis. Sehingga, dibutuhkan penelitian lanjutan untuk menghubungkan antara nilai MNA dengan kelemahan yang dialami lansia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar