|
Pendahuluan
Pengembangan Mini Nutrition Assessment (MNA) dimulai
pada tahun 1989 dalam International
Association of Geriartrics and Gerantology (IAG) di Acapulco. Tujuan
diskusi ini adalah untuk mendesain alat untuk mengukur status gizi lanjut usia
(lansia). Hal ini dilakukan karena tingginya prevalensi masalah gizi khususnya
dalam gizi kurang, baik di rumah perawatan maupun di rumah sakit pada
orang-orang lanjut usia. Penilaian gizi saja tidak cukup dalam praktek klinis
karena adanya kompleksitasnya dalam evaluasi asupan makanan, parameter klinis
dan tanda-tanda biologis.
MNA
Sebagai Bagian dari Comprehensive Geriartric
Assessment
Comprehensive
Geriartric Comprehensive (CGA) merupakan alat diagnosa yang
akurat dan dapat menunjukkan prognosis dalam jangka lama. CGA telah digunakan
dalam berbagai bidang untuk mendeteksi masalah medis, psikologi, sosial, dan
lingkungan lansia. Sebelum tahun 1989. Penilaian gizi tidak masuk dalam CGA.
Publikasi pertama MNA pada tahun 1994. Nilai yang ditentukan dalam MNA
dibandingkan dengan seluruh penilaian gizi termasuk asupan harian lansia yang
dievaluasi dengan food record selama 3 hari dan kuesioner pola makan, serta
penilaian klinis seperti parameter antropometri, penilaian biologis terhadap
status vitamin, mineral dan protein.
Pada tahun 2001 short form MNA (MNA-SF) dipublikasikan.
Form ini merupakan versi pendek dari MNA yang berguna dalam melakukan skrining
dan digabungkan dengan MNA, sehingga dilakukan dalam 2 proses. Baik dalam
praktek medis dan penelitian klinis, MNA merupakan alat yang telah digunakan
secara luas dalam melakukan penilaian dan skrining untuk sasaran lansia.
MNA
Dalam Praktek Klinis
Dalam melakukan
intervensi gizi, MNA tidak dapat berdiri sendiri. MNA merupakan bagian dari CGA
yang digunakan agar dapat saling melengkapi dalam melakukan evaluasi secara
utuh. Populasi lansia terlalu beragam untuk ditentukan aturan umum yang dapat
diaplikasikan. CGA membantu pihak di bidang klinis untuk menentukan tujuan
intervensi sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu lansia.
Penilaian gizi
seharusnya dilakukan menggunakan 2 langkah. Dimulai dari pengisian MNA-SF yang
dapat dilakukan dalam beberapa menit, kemudian dilanjutkan pengisian MNA yang
dilakukan dalam waktu 10-15 menit bila perlu. Klasifikasi lansia yang
ditetapkan oleh MNA : gizi baik, berisiko mengalami kurang gizi dan mengalami
gizi kurang. MNA berhubungan dengan penilaian klinis, indikator objektif dari
status gizi seperti albumin, IMT, tebal lemak trisep, asupan kalori dan status
vitamin.
Penggunaan
MNA-SF Dalam Praktek Klinis
a) Jika
nilai MNA-SF >12 maka pasien status gizi pasien baik. pada tingkatan
ini penting untuk diberikan saran gizi meskipun tidak ada tanda terjadinya gizi
kurang. Selain itu berat badan (BB) individu tersebut juga harus dipantau.
Intervensi dilberikan bila terjadi penurunan BB.
b) Jika
nilai <12, maka harus dilakukan penilaian lanjut dengan menggunakan MNA
sebagai bagian dari intervensi gizi
Penggunaan
MNA Dalam Praktek Klinis
a) Nilai
23,5 atau lebih diklasifikasian bahwa individu tersebut memiliki status gizi
yang baik. perlu dilakukan pemantauan berat badan, biasanya setiap 6 atau 12
bulan. Perlu dilakukan evaluasi terus menerus dan diperlukan melakukan jika
terjadi penurunan BB atau nilai dari penilaian MNA menurun.
b) Nilai
antara 17-23,49 mengindikasikan individu tersebut mengalami resiko masalah gizi
khususnya kurang gizi. Pada nilai ini, individu tidak mengalami penurunan BB
yang signifikan, tidak pula mengalami penurunan parameter biokimia seperti
plasma albumin, level vitamin, dll. Individu tersebut mengalami kekurangan
asupan kalori, vitamin dan protein yang tidak sesuai dengan kebutuhannya.
Berdasarkan CGA, diperlukan
evaluasi gizi yang detail dan dimasukkan pula analisis food record selama 3
hari. Juga perlu dilakukan evaluasi terhadap riwayat penyakit, penyakit yang
diderita akhir-akhir ini, intervensi medis yang telah diterima, kebersihan
mulut/oral serta kemampuan menelan. Pasien perlu meminum suplemen secara orang
untuk mencukupi kebutuhan kalori, protein dan zat gizi mikro. Penelitian
menunjukkan bahwa suplemen dapat meningkatkan serum albumin, hematokrit dan hasil
pengukuran antropometri pada kebanyakan individu baik yang mengalami gizi
kurang maupun beresiko mengalami gizi
kurang.
c) Nilai
kurang dari 17 (<17) biasanya mengindikasikan bahwa individu tersebut
mengalami kekurangan protein kalori (KEK). Pada tingkatan ini, penting untuk
mengukur derajat keparahan gizi kurang dengan mengukur nilai biokimianya seperti
plasma albumin atau level protein. Selain itu perlu dilakukan evaluasi food record dalam 3 hari, serta
dilakukan pengukuran antropometri seperti IMT, LiLa, dan tebal lemak.
Intervensi gizi dilakukan berdasarkan tujuan yang ingin dicapai setelah mendetailkan
CGA. Tube-feeding mungkin dibutuhkan
untuk memastikan asupan zat gizi makro, mikro dan air. Jika memang dibutuhkan tube-feeding maka dibutuhkan tenaga
medis ahli untuk melakukannya dan mengawasinya berdasarkan kondisi
patofisiologis pasien.
Penelitian
MNA
Beberapa
penelitian penggunaan MNA pada sasaran lansia
-
Terdapat hubungan signifikan antara MNA dengan
tebal lemak trisep, ADL dan serum albumin (P<0,01) (Gerber V, Kreig MA. 2003)
-
MNA-SF sensitif dan spesifik untuk
mengidentifikasi pasien lansia dengan gizi kurang atau resiko gizi kurang bila
menggunakan poin cut off >12 untuk
normal. Sensitivitas MNA meningkat bila poin cut off untuk mengidentifikasi gizi kurang meningkat dari <17
menjadi <18 (Kuzuya M, Kanda S. 2005)
-
Terdapat hubungan secara signifikan
antara nilai MNA dengan nilai biokimia (total hitung limfosit, albumin dan
transferin) (p<0,001) (Gomez Ramos MJ, Gonzales Valverde FM. 2005)
-
Tidak ada hubungan yang signifikan
antara serum albumin dan prealbumin dengan MNA pada populasi yang mengalami
penyakit pressure ulcers stage I-IV (Langkamp-Henken B, Hudgens J. 2005)
-
Sensitivitas SGA 93% sedangkan MNA 96%.
Spesifitas SGA 61% sedangkan MNA 26%. SGA lebih berguna untuk mendeteksi
individu yang mengalami gizi kurang, sedangkan MNA lebih berguna untuk
mendeteksi individu yang membutuhkan pencegahan (Christensson L, Unosson M.
2002)
Masih banyak penelitian
lain dalam penggunaan MNA dengan subjek penelitian adalah populasi lansia.
Dapat disimpulkan bahwa MNA secara jelas berhubungan dengan morbiditas dan
mortalitas pada banyak penelitian yang telah dilakukan.
MNA
dan Follow Up Gizi
MNA telah berhasil
dilakukan pada banyak penelitian intervensi pada pasien yang sakit, lemah atau
mengalami dementia. Pada penelitian yang ada, individu yang menerima suplementasi
oral, nilai MNA dan BB meningkat selama dilakukan pemantauan. Intervensi gizi
harus segera dilakukan sebelum muncul efek pada tubuh yang tidak dapat
diperbaiki.
CGA berfungsi untuk
melakukan evaluasi gizi yang efektif dalam semua metode skrining. Dalam
kelompok individu yang mengalami dementia, nilai MNA yang rendah berhubungan
dengan meningkatnya mortalitas dalam 1-2 tahun, meningkatnya perlakuan
perawatan dalam rumah, dan meningkatnya kecepatan dalam penurunan fungsi
kognitif.
Tantangan
Baru Untuk MNA?
Penting untuk
mengajarkan kepada tenaga kesehatan professional khususnya yang berkonsentrasi
pada populasi lansia yang mengalami kelemahan dan sakit dalam penggunaan MNA.
MNA bukan hanya alat untuk mengukur status gizi tapi juga berguna dalam
melakukan skrining pada populasi untuk mengidentifikasi lansia yang mengalami
kelemahan. Perlu adanya nilai spesifik yang dapat mengidentifikasi lansia yang
mengalami kelemahan dalam praktek klinis. Sehingga, dibutuhkan penelitian
lanjutan untuk menghubungkan antara nilai MNA dengan kelemahan yang dialami
lansia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar