CHILD
MALNUTRITION IN INDONESIA :
CAN
EDUCATION, SANITATION AND HEALTHCARE AUGMENT THE ROLE OF INCOME?
(TNP2K
WORKING PAPER 31-2015)
Oleh
:
Nila
Reswari I151150041
Dosen
Mata Kuliah:
Prof.Dr. Drh Clara Meliyanti Kusharto.
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN
BOGOR
2015
1.
Introduction
Lebih dari 90%
anak- anak stunting tersebar di
Afrika dan Asia, dengan porsi masing – masing 36% dan 56%. Diperkirakan 80%
dari anak-anak stunting di seluruh dunia tersebar pada 14 negara, salah satunya
yaitu Indonesia. Sebanyak 8 juta anak usia balita tumbuh stunting dan jumlah
angka kematian ibu yaitu 359 per 100.000 kelahiran hidup. Hal ini menjadikan Indonesia jauh tertinggal
dibandingkan negara miskin lainnya seperti India, Pakistan dan beberapa negara
di Afrika (UNICEF 2013).
Secara umum
diasumsikan bahwa ketika terjadi pertumbuhan ekonomi dan penurunan kemiskinan,
kecukupan gizi anak meningkat karena terjadi peningkatan terhadap akses makanan
yang lebih besar dan juga peningkatan pelayanan kesehatan pada ibu dan anak
(Haddad et al, 2003; Subramanyam et al, 2012). Namun, hubungan pertumbuhan
perekonomian dan masalah gizi di Indonesia tidak sesuai dengan gambaran umum
yang ada. Meskipun terjadi peningkatan pertumbuhan ekonomi, namun status gizi
pada anak di Indonesia menduduki kekurangan gizi kronik tetap pada tingkatan
yang cukup tinggi.
Alokasi
pendapatan dan investasi di bidang kesehatan dan pendidikan sangat penting
untuk dialokasikan untuk mempromosikan keamanan pangan, dan status gizi anak
(Stevens et al., 2012). Meskipun
peluncuran terbaru dari Universal Health
Care (UHC) untuk 86.400.000 pada negara termiskin, hanya 1% dari produk
domestik bruto (PDB) Indonesia diinvestasikan di bidang kesehatan, setara
dengan negara-negara tetangga yang lebih miskin seperti Laos, Kamboja dan
Filipina, tetapi belakangan ini Malaysia dan Brunei memberikan investasi
sebesar 2 persen, dan Vietnam dan Thailand, sebesar 3% (Suharyodan Grede 2014;
Bank Dunia, 2008).
Mengidentifikasi
faktor – faktor resiko secara signifikan dapat memberikan arahan praktis dalam
menanggulangi penyebab masalah gizi anak dan masalah stunting di berbagai
negara (Anand dan Harris, 1992; Gopalan, 1992). Tujuan dari penelitian
ini adalah untuk menjelaskan hubungan berbagai faktor risiko sosial ekonomi yang
mempengaruhi status gizi pada anak-anak di Indonesia. Oleh karena itu, penelitian
ini akan memberikan kontribusi untuk respon kebijakan yang lebih efektif untuk
mengurangi stunting anak sejak usia dini di Indonesia. Dengan pemikiran ini,
peneliti ingin meneliti dampak dari karakteristik dari anak, orang tua, rumah
tangga, akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan, dan pendapatan pada (TB/U)
anak serta hubungan probabilitas stunting.
2. Poverty,
Health and The Nutritional Status of Children : Literature Review and Some
Regional Evidence From Indonesia
Dalam dekade terakhir pertumbuhan ekonomi Indonesia telah
naik dua kali lipat dan PDB per kapita naik dari US $ 909 pada tahun 2002
menjadi US $ 3.557 pada tahun 2012. Pertumbuhan ekonomi Indonesia telah pulih
dari kehancuran krisis keuangan Asia (AFC),
harga komoditas, dan melewati masalah krisis keuangan global dengan
baik. Terlepas dari pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, masalah gizi anak
yang tetap pada tingkat yang sangat tinggi. Terutama prevalensi stunting yang
masih tinggi, yang mempengaruhi satu dari setiap tiga anak di bawah usia lima
tahun, hal ini merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting untuk
ditangani di negeri ini.
Menurut Survei Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 di
Indonesia, ditemukan prevalensi underweight,
stunting dan wasting pada anak di bawah lima tahun yaitu sebesar 19,6%,
12,1%, dan 37,2% . Menurut standar WHO dan klasifikasi, Indonesia kini
menghadapi wasting dan stunting pada tingkatan high severity sedangkan prevalensi underweight dalam tingkatan moderately severe.
Masalah gizi di Indonesia merupakan fenomena yang
kompleks dan multidimensional, hubungannya terkait dengan banyak faktor seperti kemiskinan, akses ke pelayanan kesehatan, sanitasi, dll.
Konsentrasi dan ketidakraataan kondisi geografis dan kegiatan perekonomian juga
dapat mempengaruhi masalah gizi di Indonesia. Hal ini menimbulkan pembangunan
ekonomi yang tidak merata sehingga menimbulkan masalah gizi karena kesenjangan
yang besar terutama antara pulau Jawa dan pulau-pulau lainnya, terutama di
bagian timur Indonesia. Konsentrasi kegiatan ekonomi di Indonesia banyak
dilakukan di pulau Jawa dan Sumatera.
Data geografis menunjukkan kedalaman dan ruang lingkup
masalah gizi buruk, bervariasi di seluruh Indonesia dari sekitar 26 sampai
lebih dari 50% di beberapa provinsi. Bahkan di kota-kota besar seperti Jakarta
dan Yogyakarta, provinsi dengan prevalensi terendah, kasus stunting
mempengaruhi 27 persen dari anak-anak di bawah usia lima tahun. 14 provinsi
memiliki prevalensi yang sangat tinggi (40% atau lebih), sementara 12 provinsi
lain memiliki prevalensi yang tinggi (30-39 %). Lebih dari setengah jumlah anak
anak di Nusa Tenggara Timur yaitu 52% nya mengalami stunting, sama dengan dua
kali lipat tingkat stunting yang diamati di wilayah Jakarta.
Perbedaan pendapatan dari masing-masing provinsi juga
relatif bervariasi yaitu sekitar 0,1-16%. Jakarta sebagai ibu kota Indonesia
dan beberapa provinsi yang akan sumber daya alam seperti Riau dan Kalimantan
Timur, memiliki pendapatan yang sangat tinggi. Begitu juga masalah stunting
juga mengalami variasi, di provinsi dibagian timur insiden ini juga cukup
tinggi, berbeda hal nya dengan Jakarta, Bali dan Yogyakarta yang menujukkan
kasus stunting yang rendah. Status kesehatan, pemenuhan kecukupan gizi, dan akses
terhadap pelayanan kesehatan masyarakat
di berbagai daerah juga cukup bervariasi tergantung jarak dan kondisi
daerah. Begitu juga dengan rata – rata
status kesehatan nasional. Misalnya provinsi Gorontalo dan Nusa Tenggara Barat
memiliki angka kematian bayi yang cukup tinggi yaitu 5 kali lebih besar jika
dibandingkan provinsi yang cukup baik.
Mani (2014) berusaha untuk membuat penentu sosial ekonomi
terhadap kesehatan anak di Indonesia menggunakan z-score height for-age. Temuan dari penelitian ini menunjukkan
bahwa pendapatan rumah tangga memiliki peran yang besar dan signifikan secara
statistik dalam perbaikan stunting pada anak. Park (2010), meneliti bagaimana
gradien kesehatan pada anak yang berkembang sesuai dengan usianya. Studi ini
menemukan bahwa status kesehatan sangat berkorelasi dengan pendapatan rumah
tangga untuk anak dibawah tujuh tahu, tapi tidak begitu berkorelasi untuk usia
sekolah atau yang lebih tua. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pendidikan
berdampak positif terhadap status kesehatan anak dari keluarga yang
berpenghasilan rendah, namun berdampak kecil pada status kesehatan anak dari
keluarga berpenghasilan tinggi. Akses ke penyedia layanan kesehatan juga
berperan secara signifikan dalam membentuk gradien kesehatan.
Hodge et al. (2014), meneliti keberadaan dan tingkat
kesenjangan kesehatan di Indonesia dengan mengukur tren dan kesenjangan dalam
tingkat kematian balita dan angka kematian neonatal di seluruh pendapatan,
pendidikan dan distribusi geografis. Mereka menemukan terjadinya penurunan
kematian tingkat nasional pada balita dan neonatal dalam cluster yang
dikelompokkan berdasarkan pendapatan, pendidikan ibu dan lokasi pedesaan /
perkotaan. Römling dan Qaim (2012) menemukan fakta bahwa kelebihan berat badan
menjadi masalah yang terus meningkat di Indonesia, masalah yang berdampingan
dengan berat badan kurang sehingga berkontribusi menjadi masalah gizi ganda.
Menurut penelitian, 17 persen dari rumah tangga Indonesia diklasifikasikan
menderita masalah gizi ganda, dengan anak-anak yang kurus dan orang dewasa yang
kelebihan berat badan.
3. Child
Health, Nutrition and Risk Factors
Konsekuensi dari kekurangan gizi membuatnya penting untuk
mengatasinya sejak awal. Sebagai contoh, gizi yang tidak memadai dapat
melemahkan respon kekebalan tubuh, yang mungkin pada berikutnya dapat
menyebabkan infeksi. Dengan demikian, kekurangan gizi dapat menyebabkan
gangguan sistem pencernaan seperti diare, dan penyakit lain seperti pneumonia,
influenza, dan bronkitis -penyakit yang dapat dicegah akan tetapi lebih dari 40
persen menyebabkan kematian anak di negara-negara berkembang (UNICEF, 2014;
Foster 1992).
Kerangka The United Nations
Children’s Fund’s menggabungkan penyebab biologis dan sosial ekonomi,
dan memahami tiga tingkat kausalita masalah gizi yaitu penyebab langsung,
pokok, dan mendasar (UNICEF, 1990). Penyebab langsung terhadap kurang gizi anak sesuai dengan
individu masing-masing meliputi asupan makanan (energi, protein, lemak, dan zat
gizi mikro) dan status kesehatan. Penyebab langsung terhadap kurang gizi anak
yang dipengaruhi oleh tiga hal pada tingkat rumah tangga yaitu meliputi
keamanan pangan, perawatan yang memadai untuk ibu dan anak, dan lingkungan yang
sehat yang mencakup akses ke pelayanan kesehatan.
Penyebab dasar terhadap kurang gizi anak, meliputi
potensi sumber daya yang tersedia untuk negara atau masyarakat, yang dibatasi
oleh lingkungan alam, akses ke teknologi, dan kualitas sumber daya manusia.
Politik, faktor ekonomi, budaya, dan sosial mempengaruhi pemanfaatan sumber daya
potensial dan bagaimana mereka diterjemahkan ke dalam sumber daya untuk
lingkungan keamanan pangan, perawatan dan kesehatan dan jasa (UNICEF, 1990;
Smith dan Haddad, 1999).
Banyak studi meneliti dampak dari berbagai faktor risiko
sosial ekonomi lainnya seperti pendidikan ibu, sanitasi, dan pelayanan
kesehatan dan gizi anak. Manfaat pendidikan ibu untuk kesehatan anak dan status
gizi umumnya terjadi pada status sosial
ekonomi yang lebih tinggi (Mosley dan Chen 1984). Pendidikan ayah juga penting sebagai penentu
kesehatan anak. Pendidikan ayah diyakini mempengaruhi kesehatan anak secara
tidak langsung, melalui efeknya pada pendapatan rumah tangga (Mosley dan Chen
1984).
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kurangnya akses
terhadap air bersih dan sanitasi yang buruk dan kebersihan memliki peran utama
dalam menentukan status kesehatan anak. Kurangnya akses terhadap air bersih dan
sanitasi yang memadai membuat anak berisiko tinggi tidak hidup hingga usia 5
tahun (UNICEF, 2010). Diare sering disebabkan oleh kurangnya air minum yang
bersih dan cuci tangan yang benar. Kurangnya toilet memperburuk masalah seperti
kotoran di tanah kontaminasi dengan air minum dan air untuk kegiatan lainnya.
Dalam hal ini, anak-anak yang paling rentan, karena kekebalan tubuhnya masih
rendah. Berbagai penelitian di berbagai negara telah menunjukkan bahwa kualitas
air minum berhubungan positif dengan penurunan kejadian diare dan kematian
(Cutler dan Miller 2005; Clasen et al. 2007; Arnold dan Colford 2007; Kremer
dkk. 2009). Mencuci tangan dengan sabun, dan program kebersihan, efektif
mengurangi kejadian diare sebesar 42 menjadi 47 persen (Curtis dan Cairncross,
2003).
Di tingkat rumah tangga,
pendapatan rumah tangga yang lebih besar dan meningkatkan kemampuan
orang tua untuk membeli makanan yang lebih bergizi, air yang bersih, pakaian,
perumahan cukup ventilasi, bahan bakar untuk memasak yang tepat, penyimpanan
yang aman untuk makanan, kebersihan pribadi, dan pelayanan kesehatan (lihat,
misalnya, Boyle et al. 2006, Hong et al. 2006). Conditional Cash Transfer Programs (CCTs) pada umumnya memberikan
uang tunai kepada rumah tangga miskin yang memenuhi persyaratan tertentu,
umumnya terkait dengan kesehatan anak-anak.
Beberapa program dari CCT mencoba untuk mengubah perilaku kesehatan dan
gizi penerimanya melalui workshop pendidikan gizi kelompok dan pemantauan
pertumbuhan anak (terkadang disertai
konseling standar atau individual) dan beberapa upaya untuk meningkatkan status
mikronutrien penerima manfaat melalui mikronutrien atau suplementasi.
Dalam analisis global lebih dari 20 program CCT, Bank
Dunia (Fiszbein dan Schady, 2009) menemukan bukti tentang dampak CCT pada
kejadian penyakit (morbiditas), anemia dan kematian bayi. Dalam konteks
Indonesia, Sparrow et al. (2010) meneliti dampak dari kartu kesehatan Askeskin
dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) menggunakan data panel rumah tangga. Studi ini
mengemukakan bahwa program untuk meningkatkan akses ke kesehatan dengan cara
meningkatkan pemanfaatan rawat jalan untuk orang miskin.
Akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan masyarakat di
tingkat masyarakat juga menjadi faktor penting dalam menentukan status
kesehatan anak. Baru-baru ini ada bukti yang menunjukkan bahwa ketersediaan dan
akses ke pelayanan kesehatan, tenaga bersalin yang terlatih,perawatan prenatal,
dan imunisasi memiliki dampak yang signifikan terhadap status kesehatan anak
usia dini (Strauss, 1990). Jarak ke fasilitas perawatan kesehatan, perawatan
prenatal dan kelahiran yang dibantu oleh tenaga kesehatan terlatih juga berperan
dalam kesehatan ibu dan anak-anak,
perbedaan tingkat kematian bayi dan ibu pada populasi miskin menunjukan
adanya perbedaan dalam akses layanan kesehatan (Haddad dan Hoddinot, 1994;
Sahn, 1990; Strauss, 1990). Bayi dari ibu yang menerima perawatan antenatal,
baik oleh dokter atau bidan memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk bertahan
hidup (Brockerhoff dan Derose, 1996; Howlader dan Bhuiyan, 1999). Hubungan
antara imunisasi dan pencegahan gizi buruk juga sekarang sudah sangat terbukti.
Vaksinasi pada masa kanak-kanak ditemukan dapat melindungi anak-anak dari
infeksi penyakit, dengan demikian dapat meningkatkan kesehatan dan pertumbuhan
anak (Anekwe dan Kumar, 2012; Masset dan Putih, 2003).
4. Conceptual
Framework
Kerangka teoritis untuk status kesehatan anak berdasar kepada pengambil keputusan di rumah
tangga tersebut dengan asumsi bahwa semua anggota rumah tangga memiliki
preferensi yang sama. Contohnya, rumah tangga dapat diperlakukan sebagai satu
individu yang memaksimalkan fungsi quasi-concave
utility sebagai yang mengambil
argumen konsumsi barang dan jasa-C, rekreasi-L , dan status kesehatan
Utilitas-H. Dapat dinyatakan sebagai:
max U = U (H,L,C
: Xh,ϕ)
H,L,C
H,L,C
Dimana Xh adalah
vektor dari karakteristik rumah tangga termasuk karakteristik orang tua. Orang
tua memaksimalkan fungsi utilitas mereka untuk dua hal: fungsi produksi
kesehatan untuk menjaga status gizi serta anggaran yang dimiliki. Kesehatan
anak ditentukan oleh fungsi produksi berikut:
Hi=F(Yi,Xi,Xh,Xc,ψi
Di mana Yi
adalah vektor input kesehatan, Xi adalah vektor karakteristik anak, Xh adalah
vektor karakteristik rumah tangga, Xc adalah vektor pemanfaatan dan akses ke
layanan kesehatan masyarakat dan ψi adalah gangguan yang terjadi pada anak
mewakili individu, keluarga, dan karakteristik masyarakat yang mempengaruhi
hasil status gizi anak. Alokasi pilihan rumah tangga dibuat tergantung pada
batasan anggaran pendapatan, dinyatakan sebagai:
I=Pc
C+WL+PyY
Di mana Pc, Py,
dan W adalah vektor harga barang konsumsi,
kesehatan dan rekreasi. Dan I
adalah total pendapatan termasuk nilai waktu wakaf dari rumah tangga dan
pemasukan non-tenaga kerja.
5. Estimation
Energy
Tanpa kehilangan
generality, bagian empirik berupa berkurangnya fungsi produksi kesehatan anak
dapat ditulis sebagai berikut:
Hi = α + β Xi + Xp γ +
Xh δ + Xu θ + Xc φ + Xr φ + εi
Dimana Hi adalah
vektor dari ukuran antropometrik anak. Xi menggambarkan karakteristik anak
seperti usia, jenis kelamin, urutan kelahiran. Usia anak dan jenis kelamin
dikendalikan untuk mengakomodasi pola usia tertentu pada status gizi (Shrimpton
et al. 2001).
Xp adalah vektor
kovariat yang mengontrol karakteristik orang tua (yaitu pendidikan ibu dan ayah
serta tinggi badan). Menurut Glewwe (1999), mekanisme pendidikan ibu
mempengaruhi anak-anak adalah: (a) pengetahuan kesehatan langsung dan secara
formal diajarkan untuk calon ibu, (b) membaca dan keterampilan berhitung di
sekolah membantu calon ibu dalam mendiagnosis dan mengobati masalah anak, dan
(c) paparan masyarakat modern melalui sekolah formal membuat wanita lebih mudah
menerima pengobatan dan perawatan modern.
Xh adalah vektor
untuk komposisi rumah tangga dan karakteristik (jumlah anak di bawah usia 5
tahun, air bersih dan sanitasi, dll). Keluarga yang besar biasanya cepat dalam
kompetisi pangan rumah tangga dan berbagai studi telah menemukan bahwa rumah
tangga dengan sejumlah besar anak-anak berhubungan dengan meningkatnya stunting
(Hien dan Kam, 2008).
Xu merupakan
akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan (pelayanan pre dan posnatal, jarak ke
fasilitas kesehatan, dll). Ketersediaan dan aksesibilitas pelayanan kesehatan
yang tepat selama kehamilan, kelahiran, periode postnatal memungkinkan untuk
dicegah, didiagnosis dan diobati kekurangan gizi pada anak.
Xc menggambarkan
konsumsi rumah tangga / Status aset (per-kapita dan indeks aset) dan Xr mewakili
karakteristik (perkotaan / pedesaan). Pendapatan rumah tangga non-tenaga kerja
yang ditunjukkan oleh indeks kekayaan diturunkan menggunakan analisis komponen
utama. Beberapa penelitian terbaru telah menemukan bahwa pendapatan dan
kekayaan mempengaruhi status gizi baik
pada negara berkembang.
Sebuah regresi
logistik diperkirakan untuk anak stunting, dengan probabilitas anak yang
stunting sebagai variabel dependen
digunakan untuk menentukah tinggi badan berdasarkan usia, didefinisikan
sebagai:
Stunted =
{ 1,if child’s height for age z score is below-2 SD 0,if oth
Pr⟨Stunted=1│X⟩ = f(X,β)
Pr⟨Stunted=0│X⟩ = 1 - f(X,β)
Pr⟨Stunted=0│X⟩ = 1 - f(X,β)
Dimana X adalah
vektor penjelas faktor resiko untuk stunting, seperti karakteristik anak (usia,
jenis kelamis, dst), karakteristik orang tua (kehamilan, pendidikan orang tua
dan tinggi), karakteristik dan komposisi rumah tanggga (jumlah anak yang
berusia dibawah 5 tahun, sanitasi, dst), akses dan pemanfaatan pelayanan
kesehatan (pelayanan kehamilah dan kelahiran, jarak, dst), pendapatan dan aset
tumah tangga.
Metodologi
kuantil regresi digunakan untuk menilai efek dari berbagai faktor resiko pada
titik yang berbeda dalam distribusi. Efek dari berbagai resiko faktor pada
status gizi anak akan membedakan gambaran gizinya. Sehingga dapat dituliskan
kuantil linear regresi sebagai berikut,
Dimana hi
adalah z-score TB/U anak dan X’i
menujukkan serangkaian penjelasan resiko faktor. Perlu dicatat, ketika
=
0,5, maka ada kasus khusus yang diketahui sebagai median regresi atau estimator
deviasi absolute. 5 kuantil regresi diestimasi pada kuantil ke 10, 25, 50, 75
dan 90. Standar eror yang diterima dengan 100 replikasi.
6.
Data
Dalam jurnal ini,
penulis mengestimasikan z-score TB/U
untuk anak berusia 0-59 bulan sebagai indikator utama status gizi anak karena
menginterprestasikan kekurangan gizi dalam jangka lama. Z-score TB/U dikomputasikan dengan standar pertumbuhan dari WHO
2006 sebagai rujukan karena menggambarkan data secara global dan merupakan
standar internasional. Z-score
stunting berbeda
Dimana
adalah tinggi anak,
median
adalah tinggi median dari populasi rujukan dengan umur dan jenis kelamin yang
sama dan
^x adalah standard deviasi dari rata-rata
populasi rujukan. Isu yang dilibatkan dalam penentuan cut off nilai untuk z-score
juga telah dipertimbangkan dari kesalahan pengukuran, kesalahan entry data yang bisa menjadi outlier dan bisa mempengaruhi hasil
estimasi. Sesuai rekomendasi WHO 2006, penulis mengeluarkan nilai yang ekstrim
dari data, seperti standar deviasi z-score
TB/U yang lebih dari 6 dan kurang dari -6.
7. Estimation Results
Perkiraan regresi
untuk HAZ anak dan odds ratio stunting untuk tahun 2000 dan 2007 menggunakan
survei IFLS Indonesia dan Riskesdas. Pada masing-masing regresi, faktor risiko
penjelas untuk HAZ dan stunting diperkenalkan dalam urutan: karakteristik anak
(seperti usia, jenis kelamin, dll); karakteristik orang tua (pendidikan orang
tua dan tinggi); karakteristik dan komposisi rumah tangga (jumlah balita,
sanitasi, dll); akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan (kelahiran yang
dibantu, akses ke perawatan prenatal, jarak ke fasilitas kesehatan, dll); pendapatan
rumah tangga / status aset (per kapita pengeluaran dan indeks aset); karakteristik
spasial (perkotaan/pedesaan)
Skor HAZ anak juga berhubungan negatif dengan usia anak.
Hasil estimasi dari Tabel 5-7 juga menunjukkan bahwa stunting atau gizi kronis
meningkat denganpertambahan usia anak. Perkiraan regresi menunjukkan bahwa baik
berat lahir dan interval kelahiran memiliki efek positif yang signifikan pada HAZ
anak dan stunting. Hasil estimasi menunjukkan bahwa semakin tinggi urutan
kelahiran, anak memiliki HAZ yang lebih rendah daripada anak-anak dengan urutan
kelahiran yang lebih lebih rendah. Hal ini konsisten
dengan bukti dari negara-negara lain bahwa anak yang 'pertama lahir' sering
memiliki keunggulan gizi dibandingkan dengan anak yang lahir kemudian (Lewis
dan Britton 1998).
Untuk pendidikan orang tua, hasil menunjukkan bahwa baik
pendidikan ibu dan ayah memiliki efek negatif yang signifikan pada stunting,
dengan efek yang relatif lebih besar untuk lama waktu sekolah ibu. Hubungan
positif ini antara pendidikan orang tua dan gizi anak dapat dikaitkan dengan
berbagai faktor seperti pengetahuan yang lebih tinggi dan praktek mengenai
perawatan anak, pemberian makan, kesehatan lingkungan, kebersihan rumah tangga
dan mengubah fungsi pilihan rumah tangga (Aturupane et al, 2011). Gagasan bahwa
pendidikan ibu lebih penting dari seorang ayah merupakan temuan umum dalam
literatur masalah gizi anak, dan mungkin mencakup berbagai faktor yang mendasari
seperti perempuan yang lebih berpendidikan menerima pengetahuan yang unggul
terkait dengan kesehatan, dan lebih terbuka pada pengobatan modern, dan dapat
mendiagnosa dan mengatasi masalah kesehatan anak yang lebih baik daripada ibu
yang kurang berpendidikan (Glewwe, 1999; Christiaensen dan Alderman, 2004).
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tinggi badan ibu dan ayah memiliki efek
yang signifikan pada skor HAZ dan stunting, sehingga memberikan bukti tentang
efek gizi antargenerasi. Tinggi orangtua mempengaruhi efek genetik dan juga
efek yang dihasilkan dari karakteristik latar belakang keluarga yang tidak
dikendalikan oleh pendidikan orang tua.
Perkiraan dari Tabel 2-7 mengungkapkan rata-rata defisit HAZ
lebih besar pada rumah tangga dengan proporsi bayi dan anak-anak yang lebih
besar. Sehingga tingkat kesuburan yang jatuh dalam sebuah keluarga dapat
diantisipasi dengan berkontribusi positif
pada peningkatan dalam status gizi anak. Konsisten dengan penelitian
internasional lainnya (Thomas dan Strauss, 1993; Thomas et al, 1996), hasil estimasi pada
Tabel 2-7 menunjukkan bahwa kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi yang
layak secara signifikan terkait dengan skor HAZ yang lebih rendah dan insiden
stunting yang lebih tinggi di Indonesia.
Peningkatan akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan (yang
didapat dengan kelahiran di instansi kesehatan, jarak ke fasilitas kesehatan,
kehadiran tenaga bidan terampil dan akses ke perawatan prenatal) semuanya
berhubungan dengan skor HAZ yang lebih tinggi dan berhubungan terbalik stunting
pada masa usia dini. Hasil estimasi juga menunjukkan bahwa anak-anak yang
menerima suplemen zat besi memiliki skor HAZ yang lebih tinggi dan prevalensi
stunting yang lebih rendah. Hasil ini konsisten dengan penelitian sebelumnya
yang menemukan tingkat stunting yang lebih rendah pada anak prasekolah
Indonesia melalui suplementasi besi (Angeles, 1993).
Seperti yang diduga, prevalensi stunting anak menurun tajam
dengan meningkatnya konsumsi rumah tangga dan kesejahteraan. Koefisien yang
diperkirakan untuk rumah tangga yang kuintil konsumsi dan indeks asetnya lebih
kaya secara statistik signifikan dan berhubungan negatif dengan stunting pada
anak, sementara rumah tangga yang kuintilnya relatif miskin secara positif
berhubungan dengan stunting atau masalah gizi kronis di kedua survei. Temuan
ini mendukung hasil penelitian lain (seperti Sahn dan Stifel, 2003; dan Haddad
et al, 2003), yang menunjukkan bahwa indeks aset merupakan prediktor yang valid
untuk gizi anak. Hasil estimasi pada Tabel 2-7 menunjukkan bahwa anak-anak yang
tinggal di masyarakat pedesaan menderita kekurangan gizi yang relatif lebih
dari anak-anak yang tinggal di perkotaan.
8.
Conclusion and Policy Implication
Indonesia menggunakan pertumbuhan
ekonomi yang kuat untuk mempercepat laju pengurangan kemiskinan. Namun,
terlepas dari pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan kemajuan dalam
mengurangi kemiskinan, status gizi anak di Indonesia dengan angka gizi buruk kronis tetap berlanjut pada tingkat yang sangat
tinggi.
Selain itu,
penelitian yang meneliti faktor-faktor risiko laten stunting pada anak dan masalah gizi di Indonesia masih
sangat langka. Oleh karena itu, pemahaman sarana yang lebih baik dimana
berbagai faktor sosial ekonomi mempengaruhi status gizi anak-anak di Indonesia
akan memberikan kontribusi dalam
merespon kebijakan yang lebih efektif untuk mengurangi sunting
pada anak usia dini. Dengan latar belakang ini, dalam upaya untuk
meningkatkan kesadaran terhadap masalah yang sebagian besar diabaikan, diteliti
dinamika dan faktor risiko stunting anak atau malnutrisi kronis di Indonesia.
Dilakukan investigasi dampak anak,
orangtua, karakteristik rumah tangga, akses dan pemanfaatan pelayanan
kesehatan, dan efek pendapatan terhadap usia
anak-anak menurut tinggi badan dan kemungkinan terjadinya stunting. Hasilnya menunjukkan
keberadaan gradien sosial ekonomi curam kekurangan gizi anak di Indonesia.
Menggunakan data survei IFLS (tahun 2000 dan 2007) dan survei kesehatan nasional
Indonesia (Riskesdas 2007) dan mengendalikan faktor sosial ekonomi (anak,
orangtua, karakteristik rumah tangga, akses ke dan pemanfaatan layanan
kesehatan, pendapatan rumah tangga Status / aset dan karakteristik spasial),
terungkap bahwa kondisi pendidikan ibu, air dan sanitasi, kemiskinan rumah
tangga dan daerah tempat tinggal sangat mempengaruhi gizi kronis pada anak-anak
Indonesia. Temuan ini menghasilkan
kebijakan yang berimplikasi penting dan merupakan langkah lanjut menuju
pemahaman yang lebih baik dari faktor-faktor kompleks penentu kekurangan gizi
anak.
Hasil penelitian
menunjukkan tingkat karakteristik anak
sangat penting dan menjadi
penentu status gizi . Secara
khusus, anak-anak yang lebih tua, anak-anak dari urutan kelahiran yang lebih
tinggi dan selang kelahiran lebih pendek lebih mungkin untuk menderita
kekurangan gizi daripada teman-temannya. Pendidikan orang tua memiliki pengaruh
positif yang kuat pada gizi anak. Demikian pula, tinggi badan orangtua berhubungan positif dengan status gizi
anak-anak, menandakan pentingnya genetika dan fenotip dalam mempengaruhi tinggi
badan anak.
Kemungkinan
anak menjadi kerdil secara signifikan
lebih tinggi pada anak-anak yang tinggal di rumah tangga dengan kurangnya akses
terhadap air bersih dan sanitasi yang layak. Anak-anak yang menerima suplemen
zat besi dan mendapatkan perbaikan akses
ke penggunaan layanan kesehatan
memiliki z-score
yang
lebih tinggi untuk usia menurut tinggi
badan dan prevalensi stunting. yang lebih rendah. Selain itu ditemukan bahwa angka
anak stunting secara mengejutkan tinggi bahkan dalam kuintil rumah
tangga terkaya. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa upaya bersama harus diambil
untuk mengurangi kekurangan gizi anak, dan pertumbuhan pendapatan saja tidak
akan secara otomatis memecahkan masalah gizi. Diperkirakan tingkat kekurangan
gizi untuk seluruh provinsi di Indonesia dan diperiksa heterogenitas spasial
pada anak stunting. Ditemukan bahwa prevalensi kekurangan gizi anak di
Indonesia sangat bervariasi di seluruh provinsi, dengan Nusa Tenggara Timur taraf
stunting dua kali lebih tinggi dari Jakarta. Anak-anak yang
tinggal di daerah pedesaan juga lebih mungkin untuk menderita stunting
dibandingkan yang diperkotaan
Disimpulkan
bahwa, meskipun upaya-upaya besar yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia
untuk suksesnya penurunan kemiskinan,
namun status gizi anak tidak membaik dalam beberapa tahun terakhir.
Meskipun berbagai kebijakan keamanan
pangan dan gizi dan program perlindungan sosial
ada di tingkat pusat di Indonesia, tingkat pusat tidak sepenuhnya memberikan
kebijakan komprehensif yang menargetkan masalah gizi pada anak. Misalnya
penekanan kebijakan keamanan pangan nasional
adalah pada ketersediaan pangan dan berkaitan erat dengan sektor pertanian, dengan ikatan yang
lemah terhadap penggunaan makanan dan
kesehatan anak, sedangkan kebijakan gizi
berkonsentrasi pada isu kesehatan sementara mengabaikan peran makanan.
Sehingga sinergi
yang lemah antara kebijakan tingkat nasional sering menyebabkan koordinasi yang
lemah di tingkat operasional. Pada tingkat dasar, ketahanan pangan rumah
tangga, gizi anak dan bantuan sosial menghadapi tantangan serius akibat
buruknya perencanaan dan koordinasi, kurangnya monitoring dan evaluasi sistem,
pendanaan yang tidak memadai, eksklusi dan inklusi kesalahan dalam penerima
menargetkan, cakupan yang terbatas, kekurangan sumberdaya manusia, dan
sosialisasi yang terbatas.
Sebagai
implikasi kebijakan, disarankan pelaksanaan kebijakan penawaran langsung
yang ditujukan pada gizi anak. Secara khusus, terdapat dua jenis
strategi yang penting. Pertama untuk memaksimalkan dampak, intervensi gizi
spesifik menargetkan daerah termiskin dan beban tinggi di Indonesia
mencakup antara lain promosi
menyusui, suplemen vitamin dan mineral, peningkatan imunisasi anak dan cakupan
asuransi kesehatan. Kedua, mengadopsi perencanaan pembangunan gizi yang
sensitif di semua sektor di negeri ini akan membantu memastikan bahwa agenda
pembangunan sepenuhnya memanfaatkan potensi untuk berkontribusi terhadap
penurunan tingkat masalah gizi anak di Indonesia.
Kesimpulan,
temuan menunjukkan pentingnya kebijakan spesifik , yaitu:
1. Tindakan
pada tingkat Nasional diperlukan untuk memperkuat kerangka kebijakan dan
legislatif, mekanisme kelembagaan dan pengembangan sumberdaya manusia.
2. Meningkatkan
alokasi anggaran untuk program gizi anak tak diragukan lagi akan bermanfaat
dalam mengurangi kejadian stunting di seluruh wilayah Indonesia. Diperlukan
juga kebutuhan untuk mengembangkan dan melaksanakan rencana gizi di tingkat
kabupaten dan anggaran untuk intervensi gizi yang efektif, dengan peran yang
jelas dan tanggung jawab di setiap tingkat, terutama untuk ahli gizi di pusat
kesehatan masyarakat (Puskesmas).
3. Membantu
revitalisasi Pelayanan Terpadu (selanjutnya disebut sebagai Posyandu) melalui
konseling gizi dan upaya perkembangan anak usia dini. Jaringan Posyandu
Indonesia yang luas adalah struktur yang menawarkan kemungkinan untuk konseling
gizi ke tingkat masyarakat
4. Memperkuat
program fortifikasi pangan nasional dengan memperbarui standar fortifikasi
untuk gandum, kewajiban fortifikasi pada
minyak, dan meningkatkan penegakan hukum yang ada terhadap iodisasi garam
5. Menerapkan
langkah-langkah untuk merekrut, mengembangkan dan mempertahankan ahli gizi yang
berkualitas, termasuk insentif untuk mereka yang bekerja di daerah yang dilayani
6. Pembuatan program bantuan sosial yang sudah ada maupun
yang akan datang lebih sensitif terhadap
gizi anak akan memungkinkan perencana kebijakan untuk memprioritaskan anak-anak
yang rentan terhadap stunting.
7. Penguatan
program intervensi gizi yang efektif melalui pengiriman konseling gizi untuk
ibu hamil dan ibu dari anak yang masih kecil, praktik pemberian makanan pada
bayi dan anak yang baik, mikronutrien untuk ibu hamil dan anak-anak termasuk zat besi dan asam folat,
cukup garam beryodium untuk semua rumah tangga, suplementasi vitamin A untuk anak usia 6-59 bulan, praktek kebersihan yang baik selama
kehamilan, masa bayi dan anak usia dini, cacingan pada ibu hamil dan anak usia
1-5 tahun, dan pengobatan kurang gizi akut menggunakan makanan terapi siap
digunakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar