Selasa, 27 Oktober 2015

REVIEW JURNAL : TNP2K WORKING PAPER 31-2015



REVIEW JURNAL
CHILD MALNUTRITION IN INDONESIA :
CAN EDUCATION, SANITATION AND HEALTHCARE AUGMENT THE ROLE OF INCOME?
(TNP2K WORKING PAPER 31-2015)





Oleh :

Nila Reswari                           I151150041



Dosen Mata Kuliah:
Prof.Dr. Drh Clara Meliyanti Kusharto.







SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015


1.        Introduction
Lebih dari 90% anak- anak stunting tersebar di Afrika dan Asia, dengan porsi masing – masing 36% dan 56%. Diperkirakan 80% dari anak-anak stunting di seluruh dunia tersebar pada 14 negara, salah satunya yaitu Indonesia. Sebanyak 8 juta anak usia balita tumbuh stunting dan jumlah angka kematian ibu yaitu 359 per 100.000 kelahiran hidup.  Hal ini menjadikan Indonesia jauh tertinggal dibandingkan negara miskin lainnya seperti India, Pakistan dan beberapa negara di Afrika (UNICEF 2013).
Secara umum diasumsikan bahwa ketika terjadi pertumbuhan ekonomi dan penurunan kemiskinan, kecukupan gizi anak meningkat karena terjadi peningkatan terhadap akses makanan yang lebih besar dan juga peningkatan pelayanan kesehatan pada ibu dan anak (Haddad et al, 2003; Subramanyam et al, 2012). Namun, hubungan pertumbuhan perekonomian dan masalah gizi di Indonesia tidak sesuai dengan gambaran umum yang ada. Meskipun terjadi peningkatan pertumbuhan ekonomi, namun status gizi pada anak di Indonesia menduduki kekurangan gizi kronik tetap pada tingkatan yang cukup tinggi.
Alokasi pendapatan dan investasi di bidang kesehatan dan pendidikan sangat penting untuk dialokasikan untuk mempromosikan keamanan pangan, dan status gizi anak (Stevens et al., 2012). Meskipun peluncuran terbaru dari Universal Health Care (UHC) untuk 86.400.000 pada negara termiskin, hanya 1% dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia diinvestasikan di bidang kesehatan, setara dengan negara-negara tetangga yang lebih miskin seperti Laos, Kamboja dan Filipina, tetapi belakangan ini Malaysia dan Brunei memberikan investasi sebesar 2 persen, dan Vietnam dan Thailand, sebesar 3% (Suharyodan Grede 2014; Bank Dunia, 2008).
Mengidentifikasi faktor – faktor resiko secara signifikan dapat memberikan arahan praktis dalam menanggulangi penyebab masalah gizi anak dan masalah stunting di berbagai negara (Anand dan Harris, 1992; Gopalan, 1992). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan hubungan berbagai faktor risiko sosial ekonomi yang mempengaruhi status gizi pada anak-anak di Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini akan memberikan kontribusi untuk respon kebijakan yang lebih efektif untuk mengurangi stunting anak sejak usia dini di Indonesia. Dengan pemikiran ini, peneliti ingin meneliti dampak dari karakteristik dari anak, orang tua, rumah tangga, akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan, dan pendapatan pada (TB/U) anak serta hubungan probabilitas stunting.

2.    Poverty, Health and The Nutritional Status of Children : Literature Review and Some Regional Evidence From Indonesia
Dalam dekade terakhir pertumbuhan ekonomi Indonesia telah naik dua kali lipat dan PDB per kapita naik dari US $ 909 pada tahun 2002 menjadi US $ 3.557 pada tahun 2012. Pertumbuhan ekonomi Indonesia telah pulih dari kehancuran krisis keuangan Asia (AFC),  harga komoditas, dan melewati masalah krisis keuangan global dengan baik. Terlepas dari pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, masalah gizi anak yang tetap pada tingkat yang sangat tinggi. Terutama prevalensi stunting yang masih tinggi, yang mempengaruhi satu dari setiap tiga anak di bawah usia lima tahun, hal ini merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting untuk ditangani di negeri ini.
Menurut Survei Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 di Indonesia, ditemukan prevalensi underweight, stunting dan wasting pada anak di bawah lima tahun yaitu sebesar 19,6%, 12,1%, dan 37,2% . Menurut standar WHO dan klasifikasi, Indonesia kini menghadapi wasting dan stunting pada tingkatan high severity sedangkan prevalensi underweight  dalam tingkatan moderately severe.
Masalah gizi di Indonesia merupakan fenomena yang kompleks dan multidimensional, hubungannya terkait dengan banyak faktor seperti kemiskinan,  akses ke pelayanan kesehatan, sanitasi, dll. Konsentrasi dan ketidakraataan kondisi geografis dan kegiatan perekonomian juga dapat mempengaruhi masalah gizi di Indonesia. Hal ini menimbulkan pembangunan ekonomi yang tidak merata sehingga menimbulkan masalah gizi karena kesenjangan yang besar terutama antara pulau Jawa dan pulau-pulau lainnya, terutama di bagian timur Indonesia. Konsentrasi kegiatan ekonomi di Indonesia banyak dilakukan di  pulau Jawa dan Sumatera.
Data geografis menunjukkan kedalaman dan ruang lingkup masalah gizi buruk, bervariasi di seluruh Indonesia dari sekitar 26 sampai lebih dari 50% di beberapa provinsi. Bahkan di kota-kota besar seperti Jakarta dan Yogyakarta, provinsi dengan prevalensi terendah, kasus stunting mempengaruhi 27 persen dari anak-anak di bawah usia lima tahun. 14 provinsi memiliki prevalensi yang sangat tinggi (40% atau lebih), sementara 12 provinsi lain memiliki prevalensi yang tinggi (30-39 %). Lebih dari setengah jumlah anak anak di Nusa Tenggara Timur yaitu 52% nya mengalami stunting, sama dengan dua kali lipat tingkat stunting yang diamati di wilayah Jakarta.
Perbedaan pendapatan dari masing-masing provinsi juga relatif bervariasi yaitu sekitar 0,1-16%. Jakarta sebagai ibu kota Indonesia dan beberapa provinsi yang akan sumber daya alam seperti Riau dan Kalimantan Timur, memiliki pendapatan yang sangat tinggi. Begitu juga masalah stunting juga mengalami variasi, di provinsi dibagian timur insiden ini juga cukup tinggi, berbeda hal nya dengan Jakarta, Bali dan Yogyakarta yang menujukkan kasus stunting yang rendah. Status kesehatan, pemenuhan kecukupan gizi, dan akses terhadap pelayanan kesehatan masyarakat  di berbagai daerah juga cukup bervariasi tergantung jarak dan kondisi daerah.  Begitu juga dengan rata – rata status kesehatan nasional. Misalnya provinsi Gorontalo dan Nusa Tenggara Barat memiliki angka kematian bayi yang cukup tinggi yaitu 5 kali lebih besar jika dibandingkan provinsi yang cukup baik.
Mani (2014) berusaha untuk membuat penentu sosial ekonomi terhadap kesehatan anak di Indonesia menggunakan z-score height for-age. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pendapatan rumah tangga memiliki peran yang besar dan signifikan secara statistik dalam perbaikan stunting pada anak. Park (2010), meneliti bagaimana gradien kesehatan pada anak yang berkembang sesuai dengan usianya. Studi ini menemukan bahwa status kesehatan sangat berkorelasi dengan pendapatan rumah tangga untuk anak dibawah tujuh tahu, tapi tidak begitu berkorelasi untuk usia sekolah atau yang lebih tua. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pendidikan berdampak positif terhadap status kesehatan anak dari keluarga yang berpenghasilan rendah, namun berdampak kecil pada status kesehatan anak dari keluarga berpenghasilan tinggi. Akses ke penyedia layanan kesehatan juga berperan secara signifikan dalam membentuk gradien kesehatan.
Hodge et al. (2014), meneliti keberadaan dan tingkat kesenjangan kesehatan di Indonesia dengan mengukur tren dan kesenjangan dalam tingkat kematian balita dan angka kematian neonatal di seluruh pendapatan, pendidikan dan distribusi geografis. Mereka menemukan terjadinya penurunan kematian tingkat nasional pada balita dan neonatal dalam cluster yang dikelompokkan berdasarkan pendapatan, pendidikan ibu dan lokasi pedesaan / perkotaan. Römling dan Qaim (2012) menemukan fakta bahwa kelebihan berat badan menjadi masalah yang terus meningkat di Indonesia, masalah yang berdampingan dengan berat badan kurang sehingga berkontribusi menjadi masalah gizi ganda. Menurut penelitian, 17 persen dari rumah tangga Indonesia diklasifikasikan menderita masalah gizi ganda, dengan anak-anak yang kurus dan orang dewasa yang kelebihan berat badan.

3.    Child Health, Nutrition and Risk Factors
Konsekuensi dari kekurangan gizi membuatnya penting untuk mengatasinya sejak awal. Sebagai contoh, gizi yang tidak memadai dapat melemahkan respon kekebalan tubuh, yang mungkin pada berikutnya dapat menyebabkan infeksi. Dengan demikian, kekurangan gizi dapat menyebabkan gangguan sistem pencernaan seperti diare, dan penyakit lain seperti pneumonia, influenza, dan bronkitis -penyakit yang dapat dicegah akan tetapi lebih dari 40 persen menyebabkan kematian anak di negara-negara berkembang (UNICEF, 2014; Foster 1992).
Kerangka The United Nations Children’s Fund’s menggabungkan penyebab biologis dan sosial ekonomi, dan memahami tiga tingkat kausalita masalah gizi yaitu penyebab langsung, pokok, dan mendasar (UNICEF, 1990). Penyebab langsung terhadap kurang gizi anak sesuai dengan individu masing-masing meliputi asupan makanan (energi, protein, lemak, dan zat gizi mikro) dan status kesehatan. Penyebab langsung terhadap kurang gizi anak yang dipengaruhi oleh tiga hal pada tingkat rumah tangga yaitu meliputi keamanan pangan, perawatan yang memadai untuk ibu dan anak, dan lingkungan yang sehat yang mencakup akses ke pelayanan kesehatan.
Penyebab dasar terhadap kurang gizi anak, meliputi potensi sumber daya yang tersedia untuk negara atau masyarakat, yang dibatasi oleh lingkungan alam, akses ke teknologi, dan kualitas sumber daya manusia. Politik, faktor ekonomi, budaya, dan sosial mempengaruhi pemanfaatan sumber daya potensial dan bagaimana mereka diterjemahkan ke dalam sumber daya untuk lingkungan keamanan pangan, perawatan dan kesehatan dan jasa (UNICEF, 1990; Smith dan Haddad, 1999).
Banyak studi meneliti dampak dari berbagai faktor risiko sosial ekonomi lainnya seperti pendidikan ibu, sanitasi, dan pelayanan kesehatan dan gizi anak. Manfaat pendidikan ibu untuk kesehatan anak dan status gizi umumnya terjadi pada  status sosial ekonomi yang lebih tinggi (Mosley dan Chen 1984).  Pendidikan ayah juga penting sebagai penentu kesehatan anak. Pendidikan ayah diyakini mempengaruhi kesehatan anak secara tidak langsung, melalui efeknya pada pendapatan rumah tangga (Mosley dan Chen 1984).
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kurangnya akses terhadap air bersih dan sanitasi yang buruk dan kebersihan memliki peran utama dalam menentukan status kesehatan anak. Kurangnya akses terhadap air bersih dan sanitasi yang memadai membuat anak berisiko tinggi tidak hidup hingga usia 5 tahun (UNICEF, 2010). Diare sering disebabkan oleh kurangnya air minum yang bersih dan cuci tangan yang benar. Kurangnya toilet memperburuk masalah seperti kotoran di tanah kontaminasi dengan air minum dan air untuk kegiatan lainnya. Dalam hal ini, anak-anak yang paling rentan, karena kekebalan tubuhnya masih rendah. Berbagai penelitian di berbagai negara telah menunjukkan bahwa kualitas air minum berhubungan positif dengan penurunan kejadian diare dan kematian (Cutler dan Miller 2005; Clasen et al. 2007; Arnold dan Colford 2007; Kremer dkk. 2009). Mencuci tangan dengan sabun, dan program kebersihan, efektif mengurangi kejadian diare sebesar 42 menjadi 47 persen (Curtis dan Cairncross, 2003).
Di tingkat rumah tangga,  pendapatan rumah tangga yang lebih besar dan meningkatkan kemampuan orang tua untuk membeli makanan yang lebih bergizi, air yang bersih, pakaian, perumahan cukup ventilasi, bahan bakar untuk memasak yang tepat, penyimpanan yang aman untuk makanan, kebersihan pribadi, dan pelayanan kesehatan (lihat, misalnya, Boyle et al. 2006, Hong et al. 2006). Conditional Cash Transfer Programs (CCTs) pada umumnya memberikan uang tunai kepada rumah tangga miskin yang memenuhi persyaratan tertentu, umumnya terkait dengan kesehatan anak-anak.  Beberapa program dari CCT mencoba untuk mengubah perilaku kesehatan dan gizi penerimanya melalui workshop pendidikan gizi kelompok dan pemantauan pertumbuhan anak  (terkadang disertai konseling standar atau individual) dan beberapa upaya untuk meningkatkan status mikronutrien penerima manfaat melalui mikronutrien atau suplementasi.
Dalam analisis global lebih dari 20 program CCT, Bank Dunia (Fiszbein dan Schady, 2009) menemukan bukti tentang dampak CCT pada kejadian penyakit (morbiditas), anemia dan kematian bayi. Dalam konteks Indonesia, Sparrow et al. (2010) meneliti dampak dari kartu kesehatan Askeskin dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) menggunakan data panel rumah tangga. Studi ini mengemukakan bahwa program untuk meningkatkan akses ke kesehatan dengan cara meningkatkan pemanfaatan rawat jalan untuk orang miskin. 
Akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan masyarakat di tingkat masyarakat juga menjadi faktor penting dalam menentukan status kesehatan anak. Baru-baru ini ada bukti yang menunjukkan bahwa ketersediaan dan akses ke pelayanan kesehatan, tenaga bersalin yang terlatih,perawatan prenatal, dan imunisasi memiliki dampak yang signifikan terhadap status kesehatan anak usia dini (Strauss, 1990). Jarak ke fasilitas perawatan kesehatan, perawatan prenatal dan kelahiran yang dibantu oleh tenaga kesehatan terlatih juga berperan dalam kesehatan ibu dan anak-anak,   perbedaan tingkat kematian bayi dan ibu pada populasi miskin menunjukan adanya perbedaan dalam akses layanan kesehatan (Haddad dan Hoddinot, 1994; Sahn, 1990; Strauss, 1990). Bayi dari ibu yang menerima perawatan antenatal, baik oleh dokter atau bidan memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk bertahan hidup (Brockerhoff dan Derose, 1996; Howlader dan Bhuiyan, 1999). Hubungan antara imunisasi dan pencegahan gizi buruk juga sekarang sudah sangat terbukti. Vaksinasi pada masa kanak-kanak ditemukan dapat melindungi anak-anak dari infeksi penyakit, dengan demikian dapat meningkatkan kesehatan dan pertumbuhan anak (Anekwe dan Kumar, 2012; Masset dan Putih, 2003).


4.    Conceptual Framework
Kerangka teoritis untuk status kesehatan anak  berdasar kepada pengambil keputusan di rumah tangga tersebut dengan asumsi bahwa semua anggota rumah tangga memiliki preferensi yang sama. Contohnya, rumah tangga dapat diperlakukan sebagai satu individu yang memaksimalkan fungsi quasi-concave utility sebagai yang mengambil  argumen konsumsi barang dan jasa-C, rekreasi-L , dan status kesehatan Utilitas-H. Dapat dinyatakan sebagai:

max U = U (H,L,C : Xh,ϕ)
H,L,C

Dimana Xh adalah vektor dari karakteristik rumah tangga termasuk karakteristik orang tua. Orang tua memaksimalkan fungsi utilitas mereka untuk dua hal: fungsi produksi kesehatan untuk menjaga status gizi serta anggaran yang dimiliki. Kesehatan anak ditentukan oleh fungsi produksi berikut:

Hi=F(Yi,Xi,Xh,Xc,ψi

Di mana Yi adalah vektor input kesehatan, Xi adalah vektor karakteristik anak, Xh adalah vektor karakteristik rumah tangga, Xc adalah vektor pemanfaatan dan akses ke layanan kesehatan masyarakat dan ψi adalah gangguan yang terjadi pada anak mewakili individu, keluarga, dan karakteristik masyarakat yang mempengaruhi hasil status gizi anak. Alokasi pilihan rumah tangga dibuat tergantung pada batasan anggaran pendapatan, dinyatakan sebagai:

I=Pc C+WL+PyY

Di mana Pc, Py, dan W adalah vektor harga barang konsumsi,  kesehatan dan rekreasi. Dan I  adalah total pendapatan termasuk nilai waktu wakaf dari rumah tangga dan pemasukan non-tenaga kerja.


5. Estimation Energy
Tanpa kehilangan generality, bagian empirik berupa berkurangnya fungsi produksi kesehatan anak dapat ditulis sebagai berikut:

Hi = α + β Xi + Xp γ + Xh δ + Xu θ + Xc φ + Xr φ + εi

Dimana Hi adalah vektor dari ukuran antropometrik anak. Xi menggambarkan karakteristik anak seperti usia, jenis kelamin, urutan kelahiran. Usia anak dan jenis kelamin dikendalikan untuk mengakomodasi pola usia tertentu pada status gizi (Shrimpton et al. 2001).
Xp adalah vektor kovariat yang mengontrol karakteristik orang tua (yaitu pendidikan ibu dan ayah serta tinggi badan). Menurut Glewwe (1999), mekanisme pendidikan ibu mempengaruhi anak-anak adalah: (a) pengetahuan kesehatan langsung dan secara formal diajarkan untuk calon ibu, (b) membaca dan keterampilan berhitung di sekolah membantu calon ibu dalam mendiagnosis dan mengobati masalah anak, dan (c) paparan masyarakat modern melalui sekolah formal membuat wanita lebih mudah menerima pengobatan dan perawatan modern.
Xh adalah vektor untuk komposisi rumah tangga dan karakteristik (jumlah anak di bawah usia 5 tahun, air bersih dan sanitasi, dll). Keluarga yang besar biasanya cepat dalam kompetisi pangan rumah tangga dan berbagai studi telah menemukan bahwa rumah tangga dengan sejumlah besar anak-anak berhubungan dengan meningkatnya stunting (Hien dan Kam, 2008).
Xu merupakan akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan (pelayanan pre dan posnatal, jarak ke fasilitas kesehatan, dll). Ketersediaan dan aksesibilitas pelayanan kesehatan yang tepat selama kehamilan, kelahiran, periode postnatal memungkinkan untuk dicegah, didiagnosis dan diobati kekurangan gizi pada anak.
Xc menggambarkan konsumsi rumah tangga / Status aset (per-kapita dan indeks aset) dan Xr mewakili karakteristik (perkotaan / pedesaan). Pendapatan rumah tangga non-tenaga kerja yang ditunjukkan oleh indeks kekayaan diturunkan menggunakan analisis komponen utama. Beberapa penelitian terbaru telah menemukan bahwa pendapatan dan kekayaan  mempengaruhi status gizi baik pada negara berkembang.
Sebuah regresi logistik diperkirakan untuk anak stunting, dengan probabilitas anak yang stunting sebagai variabel dependen  digunakan untuk menentukah tinggi badan berdasarkan usia, didefinisikan sebagai:

Stunted = { 1,if child’s height for age z score is below-2 SD 0,if oth
PrStunted=1│X = f(X,β)
Pr
Stunted=0│X = 1 - f(X,β)

Dimana X adalah vektor penjelas faktor resiko untuk stunting, seperti karakteristik anak (usia, jenis kelamis, dst), karakteristik orang tua (kehamilan, pendidikan orang tua dan tinggi), karakteristik dan komposisi rumah tanggga (jumlah anak yang berusia dibawah 5 tahun, sanitasi, dst), akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan (pelayanan kehamilah dan kelahiran, jarak, dst), pendapatan dan aset tumah tangga.
Metodologi kuantil regresi digunakan untuk menilai efek dari berbagai faktor resiko pada titik yang berbeda dalam distribusi. Efek dari berbagai resiko faktor pada status gizi anak akan membedakan gambaran gizinya. Sehingga dapat dituliskan kuantil linear regresi sebagai berikut,

Dimana hi adalah z-score TB/U anak dan X’i menujukkan serangkaian penjelasan resiko faktor. Perlu dicatat, ketika  = 0,5, maka ada kasus khusus yang diketahui sebagai median regresi atau estimator deviasi absolute. 5 kuantil regresi diestimasi pada kuantil ke 10, 25, 50, 75 dan 90. Standar eror yang diterima dengan 100 replikasi.

6. Data
Dalam jurnal ini, penulis mengestimasikan z-score TB/U untuk anak berusia 0-59 bulan sebagai indikator utama status gizi anak karena menginterprestasikan kekurangan gizi dalam jangka lama. Z-score TB/U dikomputasikan dengan standar pertumbuhan dari WHO 2006 sebagai rujukan karena menggambarkan data secara global dan merupakan standar internasional. Z-score stunting berbeda
 



Dimana adalah tinggi anak, median adalah tinggi median dari populasi rujukan dengan umur dan jenis kelamin yang sama dan ^x adalah standard deviasi dari rata-rata populasi rujukan. Isu yang dilibatkan dalam penentuan cut off nilai untuk z-score juga telah dipertimbangkan dari kesalahan pengukuran, kesalahan entry data yang bisa menjadi outlier dan bisa mempengaruhi hasil estimasi. Sesuai rekomendasi WHO 2006, penulis mengeluarkan nilai yang ekstrim dari data, seperti standar deviasi z-score TB/U yang lebih dari 6 dan kurang dari -6.

7. Estimation Results
Perkiraan regresi untuk HAZ anak dan odds ratio stunting untuk tahun 2000 dan 2007 menggunakan survei IFLS Indonesia dan Riskesdas. Pada masing-masing regresi, faktor risiko penjelas untuk HAZ dan stunting diperkenalkan dalam urutan: karakteristik anak (seperti usia, jenis kelamin, dll); karakteristik orang tua (pendidikan orang tua dan tinggi); karakteristik dan komposisi rumah tangga (jumlah balita, sanitasi, dll); akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan (kelahiran yang dibantu, akses ke perawatan prenatal, jarak ke fasilitas kesehatan, dll); pendapatan rumah tangga / status aset (per kapita pengeluaran dan indeks aset); karakteristik spasial (perkotaan/pedesaan)
Skor HAZ anak juga berhubungan negatif dengan usia anak. Hasil estimasi dari Tabel 5-7 juga menunjukkan bahwa stunting atau gizi kronis meningkat denganpertambahan usia anak. Perkiraan regresi menunjukkan bahwa baik berat lahir dan interval kelahiran memiliki efek positif yang signifikan pada HAZ anak dan stunting. Hasil estimasi menunjukkan bahwa semakin tinggi urutan kelahiran, anak memiliki HAZ yang lebih rendah daripada anak-anak dengan urutan kelahiran yang lebih lebih rendah. Hal ini konsisten dengan bukti dari negara-negara lain bahwa anak yang 'pertama lahir' sering memiliki keunggulan gizi dibandingkan dengan anak yang lahir kemudian (Lewis dan Britton 1998).
Untuk pendidikan orang tua, hasil menunjukkan bahwa baik pendidikan ibu dan ayah memiliki efek negatif yang signifikan pada stunting, dengan efek yang relatif lebih besar untuk lama waktu sekolah ibu. Hubungan positif ini antara pendidikan orang tua dan gizi anak dapat dikaitkan dengan berbagai faktor seperti pengetahuan yang lebih tinggi dan praktek mengenai perawatan anak, pemberian makan, kesehatan lingkungan, kebersihan rumah tangga dan mengubah fungsi pilihan rumah tangga (Aturupane et al, 2011). Gagasan bahwa pendidikan ibu lebih penting dari seorang ayah merupakan temuan umum dalam literatur masalah gizi anak, dan mungkin mencakup berbagai faktor yang mendasari seperti perempuan yang lebih berpendidikan menerima pengetahuan yang unggul terkait dengan kesehatan, dan lebih terbuka pada pengobatan modern, dan dapat mendiagnosa dan mengatasi masalah kesehatan anak yang lebih baik daripada ibu yang kurang berpendidikan (Glewwe, 1999; Christiaensen dan Alderman, 2004). Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tinggi badan ibu dan ayah memiliki efek yang signifikan pada skor HAZ dan stunting, sehingga memberikan bukti tentang efek gizi antargenerasi. Tinggi orangtua mempengaruhi efek genetik dan juga efek yang dihasilkan dari karakteristik latar belakang keluarga yang tidak dikendalikan oleh pendidikan orang tua.
Perkiraan dari Tabel 2-7 mengungkapkan rata-rata defisit HAZ lebih besar pada rumah tangga dengan proporsi bayi dan anak-anak yang lebih besar. Sehingga tingkat kesuburan yang jatuh dalam sebuah keluarga dapat diantisipasi dengan berkontribusi positif  pada peningkatan dalam status gizi anak. Konsisten dengan penelitian internasional lainnya (Thomas dan Strauss, 1993;  Thomas et al, 1996), hasil estimasi pada Tabel 2-7 menunjukkan bahwa kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi yang layak secara signifikan terkait dengan skor HAZ yang lebih rendah dan insiden stunting yang lebih tinggi di Indonesia.
Peningkatan akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan (yang didapat dengan kelahiran di instansi kesehatan, jarak ke fasilitas kesehatan, kehadiran tenaga bidan terampil dan akses ke perawatan prenatal) semuanya berhubungan dengan skor HAZ yang lebih tinggi dan berhubungan terbalik stunting pada masa usia dini. Hasil estimasi juga menunjukkan bahwa anak-anak yang menerima suplemen zat besi memiliki skor HAZ yang lebih tinggi dan prevalensi stunting yang lebih rendah. Hasil ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menemukan tingkat stunting yang lebih rendah pada anak prasekolah Indonesia melalui suplementasi besi (Angeles, 1993).
Seperti yang diduga, prevalensi stunting anak menurun tajam dengan meningkatnya konsumsi rumah tangga dan kesejahteraan. Koefisien yang diperkirakan untuk rumah tangga yang kuintil konsumsi dan indeks asetnya lebih kaya secara statistik signifikan dan berhubungan negatif dengan stunting pada anak, sementara rumah tangga yang kuintilnya relatif miskin secara positif berhubungan dengan stunting atau masalah gizi kronis di kedua survei. Temuan ini mendukung hasil penelitian lain (seperti Sahn dan Stifel, 2003; dan Haddad et al, 2003), yang menunjukkan bahwa indeks aset merupakan prediktor yang valid untuk gizi anak. Hasil estimasi pada Tabel 2-7 menunjukkan bahwa anak-anak yang tinggal di masyarakat pedesaan menderita kekurangan gizi yang relatif lebih dari anak-anak yang tinggal di perkotaan.

8. Conclusion and Policy Implication
Indonesia menggunakan pertumbuhan ekonomi yang kuat untuk mempercepat laju pengurangan kemiskinan. Namun, terlepas dari pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan kemajuan dalam mengurangi kemiskinan, status gizi anak di Indonesia  dengan angka gizi buruk kronis  tetap berlanjut pada tingkat yang sangat tinggi.
Selain itu, penelitian yang meneliti faktor-faktor risiko laten stunting pada  anak dan masalah gizi di Indonesia masih sangat langka. Oleh karena itu, pemahaman sarana yang lebih baik dimana berbagai faktor sosial ekonomi mempengaruhi status gizi anak-anak di Indonesia akan memberikan kontribusi dalam  merespon kebijakan yang lebih efektif untuk mengurangi sunting  pada anak usia dini. Dengan latar belakang ini, dalam upaya untuk meningkatkan kesadaran terhadap masalah yang sebagian besar diabaikan, diteliti dinamika dan faktor risiko stunting anak atau malnutrisi kronis di Indonesia.
Dilakukan investigasi dampak anak, orangtua, karakteristik rumah tangga, akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan, dan efek pendapatan terhadap usia  anak-anak  menurut  tinggi badan dan kemungkinan terjadinya stunting. Hasilnya menunjukkan keberadaan gradien sosial ekonomi curam kekurangan gizi anak di Indonesia. Menggunakan data  survei IFLS (tahun  2000 dan 2007) dan survei kesehatan nasional Indonesia (Riskesdas 2007) dan mengendalikan faktor sosial ekonomi (anak, orangtua, karakteristik rumah tangga, akses ke dan pemanfaatan layanan kesehatan, pendapatan rumah tangga Status / aset dan karakteristik spasial), terungkap bahwa kondisi pendidikan ibu, air dan sanitasi, kemiskinan rumah tangga dan daerah tempat tinggal sangat mempengaruhi gizi kronis pada anak-anak Indonesia. Temuan ini menghasilkan  kebijakan yang berimplikasi penting dan merupakan langkah lanjut menuju pemahaman yang lebih baik dari faktor-faktor kompleks penentu kekurangan gizi anak.
Hasil penelitian menunjukkan tingkat karakteristik anak  sangat penting dan menjadi  penentu  status gizi . Secara khusus, anak-anak yang lebih tua, anak-anak dari urutan kelahiran yang lebih tinggi dan selang kelahiran lebih pendek lebih mungkin untuk menderita kekurangan gizi daripada teman-temannya. Pendidikan orang tua memiliki pengaruh positif yang kuat pada gizi anak. Demikian pula, tinggi  badan orangtua  berhubungan positif dengan status gizi anak-anak, menandakan pentingnya genetika dan fenotip dalam mempengaruhi tinggi badan anak.
Kemungkinan anak  menjadi kerdil secara signifikan lebih tinggi pada anak-anak yang tinggal di rumah tangga dengan kurangnya akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak. Anak-anak yang menerima suplemen zat besi dan mendapatkan  perbaikan akses ke penggunaan  layanan kesehatan memiliki  z-score yang lebih tinggi untuk usia menurut  tinggi badan  dan prevalensi  stunting. yang lebih rendah.  Selain itu ditemukan  bahwa angka  anak stunting secara mengejutkan tinggi bahkan dalam kuintil rumah tangga terkaya. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa upaya bersama harus diambil untuk mengurangi kekurangan gizi anak, dan pertumbuhan pendapatan saja tidak akan secara otomatis memecahkan masalah gizi. Diperkirakan tingkat kekurangan gizi untuk seluruh provinsi di Indonesia dan diperiksa heterogenitas spasial pada anak stunting. Ditemukan bahwa prevalensi kekurangan gizi anak di Indonesia sangat bervariasi di seluruh provinsi, dengan Nusa Tenggara Timur  taraf  stunting dua kali lebih tinggi dari Jakarta. Anak-anak yang tinggal di daerah pedesaan juga lebih mungkin untuk menderita stunting dibandingkan yang diperkotaan
Disimpulkan bahwa, meskipun upaya-upaya besar yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk suksesnya penurunan kemiskinan,  namun status gizi anak tidak membaik dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun berbagai  kebijakan keamanan pangan dan gizi dan program perlindungan sosial  ada di tingkat pusat di Indonesia, tingkat pusat tidak sepenuhnya memberikan kebijakan komprehensif yang menargetkan masalah gizi pada anak. Misalnya penekanan kebijakan keamanan pangan nasional  adalah pada ketersediaan pangan dan berkaitan erat  dengan sektor pertanian, dengan ikatan yang lemah  terhadap penggunaan makanan dan kesehatan anak, sedangkan kebijakan gizi  berkonsentrasi pada isu kesehatan sementara mengabaikan peran makanan. Sehingga sinergi yang lemah antara kebijakan tingkat nasional sering menyebabkan koordinasi yang lemah di tingkat operasional. Pada tingkat dasar, ketahanan pangan rumah tangga, gizi anak dan bantuan sosial menghadapi tantangan serius akibat buruknya perencanaan dan koordinasi, kurangnya monitoring dan evaluasi sistem, pendanaan yang tidak memadai, eksklusi dan inklusi kesalahan dalam penerima menargetkan, cakupan yang terbatas, kekurangan sumberdaya manusia, dan sosialisasi yang terbatas.
Sebagai implikasi kebijakan, disarankan pelaksanaan kebijakan penawaran langsung yang  ditujukan pada  gizi anak. Secara khusus, terdapat dua jenis strategi yang penting. Pertama untuk memaksimalkan dampak, intervensi gizi spesifik menargetkan daerah termiskin dan beban tinggi  di Indonesia  mencakup antara lain  promosi menyusui, suplemen vitamin dan mineral, peningkatan imunisasi anak dan cakupan asuransi kesehatan. Kedua, mengadopsi perencanaan pembangunan gizi yang sensitif di semua sektor di negeri ini akan membantu memastikan bahwa agenda pembangunan sepenuhnya memanfaatkan potensi untuk berkontribusi terhadap penurunan tingkat masalah gizi anak di Indonesia.
Kesimpulan, temuan menunjukkan pentingnya kebijakan spesifik , yaitu:
1.    Tindakan pada tingkat Nasional diperlukan untuk memperkuat kerangka kebijakan dan legislatif, mekanisme kelembagaan dan pengembangan sumberdaya manusia.
2.    Meningkatkan alokasi anggaran untuk program gizi anak tak diragukan lagi akan bermanfaat dalam mengurangi kejadian stunting di seluruh wilayah Indonesia. Diperlukan juga kebutuhan untuk mengembangkan dan melaksanakan rencana gizi di tingkat kabupaten dan anggaran untuk intervensi gizi yang efektif, dengan peran yang jelas dan tanggung jawab di setiap tingkat, terutama untuk ahli gizi di pusat kesehatan masyarakat  (Puskesmas).
3.    Membantu revitalisasi Pelayanan Terpadu (selanjutnya disebut sebagai Posyandu) melalui konseling gizi dan upaya perkembangan anak usia dini. Jaringan Posyandu Indonesia yang luas adalah struktur yang menawarkan kemungkinan untuk konseling gizi ke tingkat masyarakat
4.    Memperkuat program fortifikasi pangan nasional dengan memperbarui standar fortifikasi untuk gandum, kewajiban  fortifikasi pada minyak, dan meningkatkan penegakan hukum yang ada terhadap iodisasi garam
5.    Menerapkan langkah-langkah untuk merekrut, mengembangkan dan mempertahankan ahli gizi yang berkualitas, termasuk insentif untuk mereka yang bekerja di daerah  yang dilayani
6.    Pembuatan  program bantuan sosial yang sudah ada maupun yang akan datang  lebih sensitif terhadap gizi anak akan memungkinkan perencana kebijakan untuk memprioritaskan anak-anak yang rentan terhadap stunting.
7.    Penguatan program intervensi gizi yang efektif melalui pengiriman konseling gizi untuk ibu hamil dan ibu dari anak yang masih kecil, praktik pemberian makanan pada bayi dan anak yang baik, mikronutrien untuk ibu hamil dan  anak-anak termasuk zat besi dan asam folat, cukup garam beryodium untuk semua rumah tangga, suplementasi  vitamin A untuk anak usia 6-59 bulan,  praktek kebersihan yang baik selama kehamilan, masa bayi dan anak usia dini, cacingan pada ibu hamil dan anak usia 1-5 tahun, dan pengobatan kurang gizi akut menggunakan makanan terapi siap digunakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar